Beranda Suara Rakyat Rilis Pers Reportase: Doa dan Harapan Buruh

Reportase: Doa dan Harapan Buruh

1
0
BERBAGI

*Bismillahirahmanirokhiim

Bapak Hakim Yang Mulia,

Sebelumnya saya ucapkan mohon maaf sebesar-besarnya bila ada tutur kata saya yang kurang sopan.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Saya ikut serta menjadi pengurus Serikat Pekerja seluruh Indonesia (SPSI) tidak ada tekanan atau paksaan dan saya pun menjadi pengurus atas panggilan hati, secara ikhlas lahir dan bathin.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Saya ini orang kecil dari desa yang mulia, saya tidak mengerti hukum / buta hukum yang mulia. Saya hampir tidak percaya hingga begini jadinya, sudah 2 bulan lebih saya berada di dalam penjara tapi saya pribadi masih belum paham dengan apa kesalahan saya.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Saya dan rekan-rekan menjadi pengurus Serikat Pekerja seluruh Indonesia (SPSI) ini sifatnya sosial, tidak mendapatkan gaji apalagi meminta gaji. Tidak ada sedikit pun iktikad saya dan rekan-rekan pengurus untuk berbuat kejahatan penggelapan dana yang selama ini dituduhkan oleh perusahaan kepada saya dan saiful.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Apa dosa saya dan saiful ??? Apa kesalahan yang paling mendasar hingga tega-teganya perusahan memasukkan saya dan saifiil ke dalam penjara, Ada unsur apa semua ini ???

Mohon maaf yang mulia, mengenai dana sosial itu dari dahulu memang tidak dipermasalahkan oleh perusahaan. Jika boleh saja jujur yang mulia, sebenarnya persoalan dana sosial itu mulai mencuat dikarenakan beberapa hal, yaitu:

  1. I) Saat Serikat Pekerja seluruh Indonesia(SPSI) menayakan perihal uang lembur (disini pokok masalah sampai pemecatan buruh gelombang I). Dan berawal dari situ perusahaan mulai muncul benih-benih rasa kebencian terhadap Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) termasuk saya dan saifuL.

II). Saat 77 karyawan di PHK dan menuntut pesangon dan Jaminan Hari Tua(JHT) maka di situlah perusahaan sangat giat-giatnya mempermasalahkan dana sosial itu. Akhirnya perusahaan mencari kambing hitam,siapakah dalang dari semua ini dan kenapa para buruh semakin kompak???

Akhirnya saya dan saiful dijadikan kambing hitam, dijadikan tumbal dengan maksud apabila 2 orang ini dipenjara maka buruh akan pecah belah, tidak ada lagi orang yang mempeijuangkan uang pesangon yang seharusnya diterima oleh para buruh. Tapi prediksi perusahaan meleset, biarpun saya dan saifiil dipenjara, dipisahkan oleh tembok penjara dengan rekan buruh akan tetapi jiwa, semangat dan perjuangan buruh tetap utuh serta lebih kompak.

Mohon maaf yang mulia, Jika yang mulia bisa perhatikan setiap kali sidang rekan-rekan buruh selalu hadir memberikan semangat, memberikan motivasi kepada saya dan saifiil. Mereka semua berdoa, beristighosah memohon kepada yang mulia memberikan ampunan hukuman kepada saya dan saifiil. Karena selesai sidang ini, peijuangan kita kaum buruh masih panjang kita akan berjuang terus sebelum semua hak-hak kita diberikan oleh perusahaan, yaitu:

  • Uang pesangon yang sudah 2 tahun belum diberikan sepeserpun
  • Uang Jaminan Hari Tua (JHT) juga belum diberikan

Bapak Hakim Yang Mulia,

Mengenai dana sosial itu yang dipermasalahkan oleh perusahaan hanyasaat kepengurusan saiful saja, sebenarnya bila pihak perusahaan dengan iktikad baik-baik mengajak kita (pengurus) menyelesaikan masalah ini, bermusyawarah bersama pasti masalahnya dapat diselesaikan dengan baik dan tidak sampai dipersidangkan yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Karena dana sosial yang dipermasalahkan nilainya sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah uang yang seharusnya dibayarkan oleh perusahaan kepada 77 orang buruh yang di PHK yaitu uang pesangon dan uang Jaminan Hari Tua (JHT) dengan kisaran nilai nya mencapai 3 miliyar rupiah.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Sebenarnya saat penyidikan, tim kuasa hukum kami sudah meminta kepada penyidik masalah dana sosial ini kita selesaikan lewat mediasi akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Bahkan Berita Acara Perkara pun saya dan saiful tidak menandatanganinya, karena kami tidak merasa menggelapkan dana tersebut.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Saya ini seorang ibu rumah tangga dan mempunyai anak perempuan yang masih kecil, bagaimana perasaan seorang ibu yang sangat mendadak dipisahkan dengan anak yang sangat dicintainya, yang setiap hari masih memerlukan bimbingan serta perhatian langsung dari seorang ibu … sangat sedih … sedih sekali yang mulia. Dan belum lagi perasaan seorang anak apabila mengetahui ibunya sehari-hari merawat, membimbing dan mengasuhnya akan tetapi sekarang dimasukkan ke penjara. Bagaimana perasaan dan mental anak saya yang mulia,oleh karena itu saya sangat memohon kepada yang mulia untuk bisa mempertimbangkan hukuman kepada saya.

Bapak Hakim Yang Mulia,

Saya masih punya seorang ibu (bapak sudah tiada), Ibu saya sudah lanjut usia dan punya riwayat sakit asma. Semenjak saya dipenjara hingga sekarang, saya pribadi sengaja tidak memberitahukan beliau dan memutuskan komunikasi antara kami untuk sementara waktu. Sebab saya sangat takut dan khawatir bila sampai ibu mendengar bahkan mengetahui bahwa saya sedang di penjara. Saya sangat mengkhawatirkan keadaan ibu saya yang akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, karena untuk saat ini hanya ibu saya orang tua kandung satu- satunya yang masih ada.

Bapak Hakim Yang Mnlia,

Saya sangat mengharapkan pertolongan dan bantuan dari yang mulia agar bisa meringankan hukuman kepada saya dan saiful. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya bila ada tutur kata yang kurang sopan. Terima kasih.

*Doa ini selalu dibacakan ketika persidangan kriminalisasi buruh di Pengadilan Negeri Malang. Tiap Senin, selama hampir 3 bulan terakhir. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here