Beranda Suara Rakyat Antara Pendidikan dan Definisi Kesuksesan

Antara Pendidikan dan Definisi Kesuksesan

127
0
BERBAGI
www.nerdwallet.com
sumber: www.nerdwallet.com

Oleh: Mutia Husna Avezahra (Relawan MCW)

Repotnya menjadi manusia kota saat ini, disibukkan oleh berbagai macam persoalan kehidupan. Mulai dari harga minyak dunia yang melambung tinggi, kebutuhan pangan yang tidak terpenuhi, pelecehan seksual, hingga soal hutang piutang sebungkus rokok dan sabun colek yang mengakibatkan tragedi pembunuhan di sebuah gang sempit pinggiran kota metropolitan. Rupa-rupanya, segala penjuru kehidupan manusia kota memang sudah tercemar berbagai bentuk polusi pikiran, perkataan dan perbuatan.

Segala polusi tersebut, hanya membuat manusia makin dehidrasi berkepanjangan. Dehidrasi moral dan kewajaran. Kini, segala peraturan kehidupan tampak wajar-wajar saja, meski manusia membuat hukumnya sendiri bagi manusia lainnya. Entah apakah itulah yang kemudian menjadi sebab, belum usainya repetoar sejarah yang menimbulkan luka kelam sampai setengah abad menjelang? Saya justru tercengang, ketika seorang teman menimpali dengan kalimat pendek yang begitu melekat pada ingatan “Nah, itulah hasil dari sekolahan”.

Pendidikan

Kita semua sebenarnya sudah mengetahui tentang betapa kompleks dan rumitnya sistem pendidikan di negeri kita tercinta. Dinding-dinding sekolah yang sering berhias kalimat motivasi “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”, seakan memberikan penegasan bahwa salah satu cara meraih cita-cita yang setinggi langit tersebut adalah pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah formal. Saya sepakat. Konstruksi berpikir pada masyarakat adalah bahwa pandangan tentang sekolah yang dipercaya dapat menyelamatkan nasib masa depan seorang manusia, masih menjadi keyakinan utama yang paling instan pada konsep mengenai pendidikan. Logikanya, di dalam sekolah terdapat aktivitas belajar yang mengasah kemampuan berpikir dan nalar, sehingga dapat mencapai pemahaman serta mendapatkan kompetensi (tertentu) sebagai bekal untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Ilmu psikologi secara umum memandang individu yang sehat adalah individu yang dapat berfungsi secara personal maupun sosial.

Sejatinya, manusia memang diciptakan untuk belajar, dan sekolah adalah salah satu tempat belajar. Tetapi perlu disesali tentang keberadaan kondisi belajar itu sendiri di sekolah, mulai dari hal-hal yang sifatnya esensial sampai praktikal. Kekacauan multifaktor dunia pendidikan yang turut menyertai asupan gizi anak-anak sekolah, perlahan menyumbangkan kelumpuhan pada cara-cara mencapai arti dari belajar tersebut. Ternyata, ini bukan hanya soal sistem yang telah memperkosa manusia dalam upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa, melainkan ini soal yang lebih mendasar mengenai dangkalnya terminologi sukses yang menjejali kita sejak dini.

Pergeseran-pergeseran yang terjadi di dunia mengakibatkan kehidupan menjadi semakin artificial, sehingga berkontribusi pada perkembangan ilmu science. Dahulu kala para ilmuwan mengembangkan ilmu untuk mencapai rasa ingin tahu. Sedangkan sekarang orang-orang berlomba untuk mencapai ilmu pengetahuan demi tujuan mencari harta. Perbedaan orientasi esensi antara zaman dahulu dan sekarang-lah yang menjadi salah satu faktor mengapa kehidupan nampak semakin dibuat-buat dengan memenuhi target-target pasar industri.

Dengan iklim yang tercipta sedemikian struktural, dari putaran simulakra sistem hukum rimba antara negara-negara antarkelas di dunia, maka hasil orientasi belajar yang mengkehendaki keberagaman terpaksa harus diubah menjadi keseragaman. Terjerat dalam standar-standar yang mau tidak mau harus dipenuhi sebagai tuntutan sudah menjadi mekanisme yang harus diterima sebagai anak-anak yang hidup di negara dunia ketiga—yang sarat dengan krisis kepercayaan diri.

Sejak usia dini cara belajar anak-anak ditenggelamkan melalui pencapaian standar-standar nilai yang melabeli mereka dengan kategori sangat pintar sampai sangat bodoh. Asosiasi kompensasi yang diberikan dengan simbol angka-angka dalam kolom penilaian membentuk cara berpikir yang begitu instan dalam dunia pendidikan. Mungkin para praktisi sudah terlalu sibuk mengurusi seremoni yang harus terpenuhi. Minim apresiasi terhadap suatu karya dan lemahnya motivasi untuk mengeksplorasi diri sendiri kian menyurutkan esensi dari belajar. Bayangkan kita bertumbuh dan berkembang di dalam penjara keseragaman pendidikan yang tidak memperkenankan kita belajar dengan cara-cara selain yang tertera di dalam kurikulum.

Definisi Kesuksesan

Barangkali dada kita bakalan mengembang bangga sambil mengata-ngatai betapa berarti pendidikan di kemarin hari, ketika sekarang kita sudah mengantungi kunci mobil, melunasi cicilan bunga pinjaman untuk rumah idaman, kemudian punya rutinitas pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan di hari tua. Begitukah sebuah gambaran kesuksesan dari hasil sekolahan yang dicita-citakan?

Sungguh kehidupan sekarang memang cukup sulit tanpa adanya uang. Tetapi kenapa sekolah justru membuat manusia menjadi mesin pencetak uang? Dijejali dengan terminologi nikmatnya hidup diantara emas-emas bak putra mahkota, atas nama materi yang dianggap sebagai segala-galanya. Maka tidak salah jika fenomena korupsi bisa marak terjadi, disebabkan faktor dangkalnya pengertian kesuksesan bagi para alumnus sekolahan.

Sekarang dapat kita rasakan ketidakseimbangan ada dimana-mana, sekolah mencetak orang-orang pintar tanpa dibekali kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu pengetahuan. Tiada lagi yang menganggap tema-tema sederhana, bahwa kesuksesan juga meliputi hal-hal sepele di sekitar kita yang menumbuhkan kepekaan sosial, seperti misalnya kejujuran, ketertiban, toleransi, dan saling silang antar manusia lainnya. Hati manusia menjadi mati karena sekolah hanya menuntut pencapaian-pencapaian potensi secara maksimal atas nama efektivitas dan produktivitas suatu kinerja, yang kemudian hari siap diserap oleh dunia abu-abu industri.

Sebenarnya sah-sah saja, mengingat manusia sebagai makhluk ekonomi yang tidak pernah puas untuk melakukan kegiatan konsumsi. Tetapi, marilah coba melihat sisi sisi lain kehidupan. Bagaimana peran manusia sebagai makhluk sosial? Bagaimana peran manusia sebagai makhluk yang saling berkaitan antara satu sama lain? Bagaimana manusia dapat menjadi arif dan bijaksana hidup berdampingan dengan alam, misalnya? Bagaimana kita sebagai manusia yang dapat menyeimbangkan sisi sisi lain kebutuhan manusia yang harus dipertahankan pula?

Sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri untuk apa bersekolah tinggi-tinggi, jika ternyata justru menyumbangkan kekacauan di bumi. Pendidikan yang sudah kita anyam semenjak dini, sadar tidak sadar telah mengajarkan keseragaman pola, cara dan tujuan kesuksesan yang berorientasi (hanya) pada pergerakan sistem-sistem industri dunia, sehingga membuat kita sebagai penduduk pribumi negeri terjerat oleh kemuakkan di segala lini kehidupan. Apakah kita bersikeras dengan itu semua dan menunggu mati sekarat oleh doktrin-doktrin kesuksesan yang diwariskan turun temurun?

Mana terlebih dahulu yang harus diperbaiki antara pendidikan dan definisi kesuksesan, tidak menjadi masalah. Masalahnya, keduanya memang sudah cukup kompleks dan mengakar di sela-sela kehidupan kita.

Jika muara dari kacaunya pendidikan dan dangkalnya definisi kesuksesan adalah soal uang, maka saya hanya mengingatkan, bahwasanya secara fungsi, uang hanya sebagai alat untuk pemenuh kebutuhan manusia, bisa dikatakan satu dari sekian juta cara yang ada di muka bumi ini. Kemudian saya teringat pesan Aristoteles tentang tujuan manusia menjalani kehidupan di dunia ini adalah untuk mencapai kebahagiaan. Dan uang bukan satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan, sangat disayangkan jika uang justru membuat kita menjadi tidak bahagia. Sangat disayangkan juga, kehidupan yang hanya sebentar ini, membuat kita menjadi tidak bahagia. Barangkali ini saatnya kita berbenah merancang ulang definisi-definisi yang kita kehendaki untuk kehidupan kita sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.