Dibalik Gemerlap Lampu Kayoetangan Heritage Malang

BERBAGI

Ada yang tampak berbeda ketika kita melewati Jl. Basuki Rahmat Kota Malang akhir-akhir ini. Gemerlap lampu menghiasi sepanjang pedestrian dengan jarak yang cukup rapat antara 4-6 meter. Jika waktu akhir pekan tiba, begitu mudah kita temui muda-mudi dengan beragam aktifitasnya. Mereka berswafoto, berkumpul dengan komunitasnya, atau sekedar duduk-duduk melepas penat. Kampung Malang Heritage itu kini menjadi salah satu tujuan destinasi wisata ikonik dengan akses yang mudah karena melewati jalur penghubung utama, ditambah lokasinya berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang.  

Setelah dilakukan pembukaan bulan desember kemarin, beragam respon muncul dari masyarakat. Mulai dari memuji keindahannya, bahkan tak sedikit yang kecewa karena dinilai terlalu mirip dengan desain Malioboro di Yogyakarta, padahal seharusnya Malang punya ciri khasnya sendiri, begitulah kira-kira cuitan salah satu netizen di media sosial. Seiring waktu problematika lain mulai bermunculan, mulai dari tata kelola parkir, putung rokok dan sampah yang berserakan.

Kental dengan nuansa sejarah, kampung ini mempunyai sederetan rumah dengan arsitektur zaman kolonial Belanda yang masih terawat. Hal ini tidak bisa terlepas dari lika-liku kampung dalam menghadapi berbagai macam periode sejarah.

Catatan sejarah menujukkan bahwa Malang hingga tahun 1914 masih termasuk daerah pedalaman. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, sudah terdapat penghuni dari luar pribumi yakni bangsa eropa (Belanda) dan timur asing (Arab, China, dan lainnya). Baru tahun 1917 Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkan rencana tata kota di area Celaket dan Rampal. Pada masa itu Kota Malang mulai ramai diserbu para pendatang karena konsep tata kota yang menarik (City Garden), dengan pemandangan dikelilingi pegunungan yang indah. Kawasan Kayoetangan sebagai pusat pertokoan modern menjadi pintu gerbang memasuki pusat Kota (Gemeente) Malang. Saat itu area sekitar alun-alun menjadi sentra pertokoan dan perkantoran dengan rumah-rumah pegawai dibelakangnya.

Pada masa pendudukan jepang (1942) wilayah Kayoetangan menjadi tempat parade militer tantara Jepang. Masyarakat pribumi menyambut baik kedatangan tantara Jepang dengan slogan propagandanya “Asia untuk orang Asia”. Komplek pertokoan Belanda di Kayoetangan diambil alih oleh Jepang, meskipun demikian beberapa orang Tionghoa masih melakukan aktivitas perdagangan. Pada era revolusi (1945-1949) Kayoetangan menjadi daerah strategis yang dikuasai Belanda. Sebagai pusat ekonomi penting sejak era kolonial, Kayoetangan menjadi wilayah yang dilakukan penjagaan secara ketat karena persediaan logistik yang disediakan para pedagang Tionghoa.

Pada masa pasca kemerdekaan (1955), telah dilakukan nasionalisasi terhadap bangunan-bangunan bekas milik Belanda. Perkembangan rumah begitu pesat dengan tipe yang beragam, seperti rumah Jengki dan rumah Limas sebagai khas rumah malangan. Kampoeng Kayoetangan menjadi saksi sejarah atas beragam pengalaman masa lalu di Kota Malang.

Sejak 22 April 2018, Kampoeng Kayoetangan telah diresmikan sebagai kampung heritage atau kampung budaya. Kampung Heritage Kayoetangan memiliki beragam destinasi wisata yang cukup menarik, destinasi tersebut diantaranya meliputi peninggalan masa Hindu Budha (Abad XII M), masa kolonial dan penyebaran Islam (1800), dan masa kemerdekaan hingga sekarang seperti makam Eyang Honggo Kusumo, Kuburan Tandak, Pasar Krempyeng, irigasi Belanda, Tangga Seribu, dan lain sebagainya (Ridhoi, dkk, 2020).

Tepat di perempatan Jalan Basuki Rahmat terdapat arsitektur pertokoan yang terkenal, masyarakat sering menyebutnya Perempatan Rajabaly. Konon bangunan kembar disebelah barat perempatan yang dibangun oleh arsitek Karel Bos (1936) tersebut menggambarkan pintu gerbang menuju jalan Semeru. Berjalan ke selatan terdapat beberapa bangunan tua, seperti Toko Oen yang menyediakan berbagai macam hidangan. Konon toko ini dulu menjadi tempat para peserta kongres KNIP (25 Februari 1947) beristirahat makan siang. Selain itu terdapat Gereja Katolik Hati Kudus Yesus yang mempunyai gaya arsitektur unik (Gothic) dengan dua menara menjulang. 

Beberapa daya tarik nilai sejarah inilah yang oleh Pemerintah Kota Malang berusaha ditranformasikan menjadi nilai ekonomi. Pembangunan “Malang City Heritage” diyakini menjadi proyek besar yang dapat membangkitkan peluang usaha semakin berkembang di Kota Malang.

Proyek Ambisius

Dibalik perencanaan pengembangan yang cukup panjang, terdapat beberapa kontroversi tersendiri atas pengembangan proyek tersebut. Proyek tersebut memakai Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), secara garis besar merupakan salah satu kebijakan dari Kementerian PUPR yang dilaksanakan sejak tahun 2015. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi kawasan permukiman kumuh di seluruh Indonesia.

Bersadarkan penggunaan anggarannya, pembangunan Kayoetangan Heritage dibagi menjadi tiga tahap. Pertama menggunakan anggaran Kementerian PUPR dengan nominal 23 miliar. Anggaran ini dipakai untuk mengganti jalan aspal menjadi paving blok. Kedua, berasal dari APBD Kota Malang 2021 sebesar 3,6 miliar untuk pengadaan lampu hias. Ketiga, menggunakan APBD 2022 sebesar 6 miliar untuk perbaikan trotoar. Selain lampu hias, kawasan tesebut juga akan ditanami sebanyak 36 Pohon Tabebuya dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp 86 juta.

Angggaran yang diambil dari Kementerian PUPR merupakan alokasi belanja untuk program KOTAKU. Seperti namanya, target program ini adalah untuk memperbaiki kondisi permukiman yang kumuh. Berdasarkan Keputusan Menteri PUPR No.177/kpts/m/2021, ada 16 kelurahan dari 5 kecamatan yang berhak menerima bantuan dari program KOTAKU. Namun Jl. Basuki Rahmat  yang berada di Kelurahan Kiduldalem tidak termasuk dalam sasaran program KOTAKU.

Keputusan Walikota Malang Nomor 188.45/86/35.73.112/2015 tentang penetapan lingkungan perumahan dan permukiman kumuh, luasan tersebut 608.60 Ha yang meliputi 29 Kelurahan pada 5 Kecamatan.

Koridor Kayoetangan tidak termasuk kawasan kumuh dikarenakan Kayoetangan ialah jalan protokol yang menghubungkan permukiman di sekitarnya dan revitalisasi jalan di koridor ini hanya ditujukan untuk membangkitkan nuansa heritage pada koridor tersebut. Sehingga beberapa masyarakat menilai pembangunan di Kayutangan ini dinilai kurang sesuai dengan tujuan program KOTAKU Kawasan yang sebenarnya. Terlepas proses pembangunannya yang kontroversial, Kayoetangan Heritage kini sudah nampak seperti yang kita lihat. Lampu-lampu gemerlap menghiasa sepanjang sore hingga malam harinya, dengan para pengunjung yang berlalu-lalang, ditambah pertunjukan musiknya di akhir pekan. Penggalian nilai budaya melalui program nasioanal sesungguhnya tidak bisa terlepas dari aspek sosio-historis perkembangan tata kota. Disini aspek partisipasi masyarakat (meaningful participation) menjadi prinsip utama untuk mewujudkan asas keadilan sosial. Seperti pepatah jawa bilang “desa mawa cara, negara mawa tata”.

Penulis: Adi Susilo, Pegiat Literasi di Komunitas Kalimetro

Artikel ini telah terbit sebelumnya di Detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.