Hak Pejalan Kaki yang Terabaikan

BERBAGI

Pejalan kaki atau pedestrian merupakan setiap orang yang berjalan di ruang lalu lintas. Pejalan kaki mempunyai sejumlah hak terkait keselamatan mereka dalam berjalan kaki. Salah satu faktor penunjang keselamatan dan keamanan pejalan kaki adalah adanya trotoar di ruang-ruang lalu lintas. Trotoar atau jalur pedestrian sebagai alat penunjang perpindahan pejalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya.

Menyoal trotoar memang tampak sepele, tapi sesungguhnya penting di dalam sebuah kota besar seperti halnya Kota Malang. Keberadaan trotoar dapat menunjang keselamatan pejalan kaki di Kota Malang. Tanpa fasilitas trotoar yang memadai akan menghambat aktivitas para pejalan kaki, bahkan bisa membayakan keselamatan. Lebih-lebih di Kota Malang mengalami pertambahan jumlah pendatang dari tahun ke tahun. Sebagai Kota Pendidikan, Kota Malang setiap tahunnya selalu ramai dengan mahasiswa baru dari berbagai penjuru daerah. Mahasiswa bertambah, pejalan kaki bertambah, kebutuhan fasilitas trotoar juga bertambah penting.

Setiap tahunnya mahasiswa pendatang di Kota Malang mencapai angka 300-an ribu. Pada tahun ajaran 2022-2023 misalnya, ada sejumlah 330 ribu mahasiswa baru yang berkualiah di Kota Malang. Atas dasar itu, fasilitas trotoal harus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, perlu ditingkatkan. Namun sayangnya, masih terdapat beberapa tempat sekitar kampus yang tidak mempunyai trotoar.

Trotoar sebagai sarana kelengkapan kawasan perkotaan seharusnya ada di setiap jaringan jalan kota. Namun di Kota Malang, masih terdapat kawasan tepi jalan raya yang padat penduduk tidak dilengkapi dengan fasilitas trotoar. Banyak ruas jalan di koridor perdagangan dan jasa serta fasilitas umum yang tidak terdapat jalur pedestrian yang aman bagi pejalan kaki. Salah satu contoh bukti tidak adanya perhatian pemerintah Kota Malang dalam pembuatan jalur pedestrian yang nyaman dan aman terdapat di Jalan Sunan Kalijaga sampai dengan Jalan Mertojoyo Selatan. Padahal di daerah tersebut gelombang pejalan kaki dan aktivitas publik banyak dilakukan dan jalan tersebut terdapat beberapa pusat kegiatan seperti kampus, kopian, dan taman yang berada dalam satu jajaran jalan. Karena kurang adanya trotoar maka hak-hak dan keberadaan para pejalan kaki diabaikan oleh pemerintah. Apakah mereka para pejalan kaki yang notabene mahasiswa dan pendatang yang ada di sekitar jalan tersebut tidak bisa mendapatkan keselamatan saat mereka berjalan? Apakah trotoar dan jalur pedestrian hanya dapat diakses di pusat-pusat kota saja?

Padahal jalur pedestrian berfungsi untuk pejalan kaki agar dapat berjalan dengan aman dan nyaman, tanpa rasa takut. Ketiadaan jalur pedestrian tidak di sekitaran daerah Jalan Sunan Kalijaga sampai dengan Jalan Mertojoyo Selatan membuat para pejalan kaki berjalan tidak aman dan nyaman serta penuh ketakutan karena harus berjalan di jalur transportasi. Minimnya trotoar di daerah tersebut menyebabkan keterpaksaan mereka berjalan di bahu jalan dengan kendaraan-kendaraan motor dan mobil yang padat berlalu-lalang. Tentu dalam kondisi demikian sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan mereka para pejalan kaki. Hak pejalan kaki hilang.

Ketidakhadiran pemerintah menyediakan jalur pedestrian yang memadai tersebut tidak sejalan dengan Pasal 14 Ayat (3) huruf l tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan yang Terdapat Sarana dan Prasarana Umum. Peristiwa ini berbanding terbalik dengan kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang, malahan merevitalisasi tiga titik jalur pedestrian dengan anggaran senilai Rp4,2 miliar di tahun 2021. Pemerintah tidak memperhatikan permasalahan yang terjadi di daerah pusat-pusat sarana prasarana pendidikan dan rekreasi di lingkungan Jalan Sunan Kalijaga hingga Jalan Mertojoyo Selatan. Pemkot hanya menitikberatkan pembangunan jalur pedestrian untuk memberi kesan estetis kota. Seolah ketika jalan-jalan dan jalur pedestrian di pusat kota memadai dan mengesankan maka sudah memenuhi kewajiban untuk menyediakan fasilitas trotoar. Padahal hal itu di luar dari ketentuan pedestrian security dan pedestrian safety yang sesungguhnya harus menyediakan fasilitas pejalan kaki di semua ruas jalan, utamanya yang mempunyai sarana dan prasana umum laiknya di sepanjang jalan Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim Malang. 

Penulis sebagai salah satu pejalan kaki yang sering beraktivitas di area sekitar jalan Sunan Kalijaga-Mertojoyo, berharap para pemangku kebijakan segera membuat jalur pedestrian yang aman dan nyaman. Sebelum ada korban dari kelalaian pemerintah, juga untuk menciptakan kota yang ramah pejalan kaki. Dikarenakan banyaknya pejalan kaki yang beraktivitas serta ramainya lalu lalang kendaraan di daerah tersebut akan mengancam keselamatan dari para pedestrian.

Penulis: Fitra Shelby (Sakti 14 MCW, Mahasiswa UIN Malik Ibrahim Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.