Beranda Suara Rakyat Hantaman Korupsi Pada Perguruan Tinggi

Hantaman Korupsi Pada Perguruan Tinggi

609
0
BERBAGI

Oleh Akmal Adi Cahya (Kepala Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan)

Selama ini isu anggaran pendidikan dasar menjadi fokus yang menutupi pembahasan anggaran pendidikan tinggi. Sejatinya, Permasalahan ketiadaan transparansi dan partisipasi juga menjangkiti lembaga perguruan tinggi. Hal ini terlihat dari tidak transparannya pengelolaan beberapa dana beasiswa.
Dalam salah satu kasus dana beasiswa, terjadi dugaan pemotongan dari jumlah total 6 juta rupiah per semester menjadi 3,6 juta rupiah per semester. Para penerima beasiswa sama sekali tidak tahu mengapa dan untuk apa pemotongan dana tersebut sebenarnya. Mereka bahkan tidak tahu pemotongan tersebut legal ataukah illegal.
Salah seorang kawan penerima beasiswa bidikmisi bercerita ketika Ia menanyakan kejelasan pemotongan dana kepada pihak universitas, dikatakan bahwa pengelolaan dana beasiswa yang sangat tertutup tersebut merupakan otonomi universitas. Oleh karenanya, mahasiswa tidak berhak untuk tahu alasan pemotongan dan bagaimana pengelolaannya. Jelas arti otonomi disini telah diselewengkan dari maksud sejatinya. Universitas atau perguruan tinggi memang memiliki otonomi, akan tetapi tetap harus berdasar pada prinsip transparansi dan partisipasi. Otonomi haruslah dibedakan dengan monopoli dan eksploitasi.
Padahal, beasiswa bidikmisi diperuntukkan bagi mahasiswa berprestasi yang kurang mampu. Tentu, pemotongan tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas hidupnya. Belum lagi ketika pencairan dana mengalami kemacetan. Kawan yang sama juga bercerita bahwa Ia dan beberapa kawan bidikmisi lainnya sempat diancam akan di Drop Out karena menyampaikan kondisi mahasiswa bidikmisi kepada halayak melalui media masa. Oknum pengancam pun adalah pengajar yang Ia dan kawan-kawan lainnya hormati.
Bila pelaksanaan pendidikan dasar dikecewakan oleh pungutan liar dan tidak efektifnya peran komite sekolah. Perguruan tinggi berhasil mengecewakan publik dengan praktek-praktek kekerasan dan penyalahgunaan wewenang.

Menjadi Lahan Basah Korupsi

Kekecewaan publik kian meningkat ketika pada beberapa tahun terakhir telah terbongkar beberapa kasus penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh oknum perguruan tinggi. Bahkan sejumlah pimpinan dan pejabat pada perguruan tinggi di Kota Malang terlibat dalam tindak pidana korupsi. Setidaknya terdapat tiga universitas yang tersangkut kasus korupsi di Kota Malang.
Pertama, Universitas Negeri Malang atau biasa dikenal dengan sebutan UM. Kampus yang dahulu bernama IKIP ini mengagetkan publik karena keterlibatannya dengan perusahaan Permai Grup milik bendahara partai demokrat Nazaruddin. UM terbukti telah merugikan Negara hingga 14 Miliar rupiah akibat praktik kongkalikong yang dilakukan oknumnya dengan perusahaan Nazarudin.
Hal ini diperparah dengan terseretnya beberapa nama petinggi kampus. H. Suparno (mantan Rektor) selaku rektor kala itu disebut-sebut pernah bertemu dengan Mindo Rosalina yang notabene merupakan salah satu orang kepercayaan Nazarudin di Permai Grup. H. Rofiuddin (saat ini Rektor) yang saat itu masih menjabat sebagai Pembantu Rektor juga diisukan beberapa kali pernah bertemu dengan pihak Nazaruddin di Jakarta. Meski belum ada bukti kuat terkait keterlibatan kedua petinggi tersebut dalam kasus korupsi ini, pengadilan tipikor jawa timur telah menetapkan tiga dosen lain sebagai terpidana dalam kasus ini. Dua dosen merupakan panitia pengadaan, dan satu dosen selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Kedua, Universitas Islam Negeri Malang atau biasa disebut dengan UIN Malang. Kampus islam ini tersandung skandal korupsi pengadaan lahan dalam upaya pengembangan universitas. Diduga oknum universitas berkongkalikong dengan makelar terkait harga dan keberadaan tanah. Akibatnya, terdapat kerugian negara hingga 3 miliar rupiah.
Masih sama dan serupa dengan kasus UM, nama mantan rektor UIN juga turut terseret dalam kasus rasuah ini. Bahkan sang Rektor, Imam Suprayogo telah menyandang status tersangka. Imam diduga menjadi otak dan bertanggung jawab atas segala tindak-tanduk panitia pengadaan yang tidka melakukan tugas sebagaimana mestinya. Imam disebut-sebut pernah bertemu dengan mantan walikota Batu, Imam Kabul demi membicarakan pengadaan lahan ini. Tidak hanya menyeret nama-nama dosen UIN sebagai tersangka, kasus ini juga telah memberikan status tersangka kepada salah satu oknum di pemerintah kota Batu.
Ketiga, Universitas Kanjuruhan Malang atau dikenal dengan sebutan Unikama. Perguruan Tinggi yang menahbiskan dirinya sebagai kampus multikultural ini nyatanya tidak lepas dari skandal korupsi. Beberapa oknum Unikama diduga telah merugikan Negara hingga 2,3 Miliar. Bahkan dalam daftar tersangka yang telah ditetapkan, terdapat nama Amir Sutedja yang notabene merupakan mantan Rektor di Universitas tersebut.

Berlakunya Formula Korupsi

Ketiga contoh kasus tadi kian menegaskan bahwa korupsi dapat terjadi di mana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Perilaku korup dapat dilakukan di mana saja oleh siapa saja tanpa memandang umur, jabatan, status sosial ataupun tingkat pendidikan. Kita kemudian mengingat kembali rumusan sederhana tentang korupsi yang diajukan oleh Klitgard. Korupsi adalah perpaduan antara praktik Monopoli (Monopoly) dan kewenangan menyusun kebijakan (discretion) yang tidak diiringi oleh pertanggung jawaban (Accountability). Selama formulasi tersebut ada, maka korupsi juga masih terus akan ada.
Kasus-kasus tersebut sekaligus memperlihatkan betapa ironisnya ketika perguruan tinggi dengan Tri Dharma Perguruan Tingginya justru menjadi salah satu institusi yang menyalahgunakan uang rakyat. Perguruan tinggi yang seharusnya menghasilkan para agent of change dan mengabdi demi kepentingan rakyat justru menjadi lahan basah bagi suburnya tindak korupsi. Korupsi sebagai sebuah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) benar-benar menunjukkan kemampuannya menyeret orang-orang luar biasa di negeri ini. Tidak peduli apakah Ia seorang pengajar, Menteri hingga pemimpin perguruan tinggi, korupsi mampu membuat mereka tergoga dengan nikmatnya manis kejahatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.