Imperial Sampah Sebagai Bentuk Kehancuran Lingkungan Hidup

BERBAGI
Sumber foto: see.news

Jalan hidup manusia era kontemporer sudah tidak bisa terlepas dari sesuatu yang disebut plastik. Perkembangan peradaban manusia telah membawa suatu ide: pemanfaatan plastik sebagai model praktis dalam mengemas segala kebutuhan hajat hidup manusia.

Era industri berkembang pesat, negara-negara di dunia berlomba mencapai taraf industrialisasi termaju, demi meraih sebuah predikat sebagai negara maju dan modern.

Kesibukan-kesibukan manusia dalam bentuk praktik mencari nafkah untuk penghidupannya, berdampak pada budaya konsumtifnya. Yang membuat masyarakat dewasa ini mempunyai pandangan praktis dalam memenuhi kebutuhan mendasarnya, yakni makan. Sehingga para pegiat industri makanan berusaha menemukan cara dalam bentuk penyediaan makanan yang praktis, yakni dalam bentuk kemasan.

Bukan hanya kebutuhan primer yang menjadi landasan dasar dalam pembuatan kemasan berbahan dasar plastik. Bahkan, semua aspek kehidupan manusia sudah berdampingan erat dengan pola kehidupan masyarakat era kontemporer. Inovasi-inovasi tumbuh dalam rentetan waktu yang terus memaksa perkembangan produk-produk berkemasan plastik untuk kebutuhan makanan manusia. Dan, hal ini justru menjebak manusia sendiri. Jebakan dalam bentuk bayang-bayang sampah plastik.

Lingkungan menjadi korban predator yang bernama plastik. Apalah bentuk tindakan manusia setelah buah tangannya telah menjadi bumerang?

Huru-hara gerakan dalam membasmi produktivitas sampah hasil dari masyarakat telah menyebar ke segala penjuru. Menandakan dunia telah dirasuki kerajaan sampah, yang, sedikit demi sedikit merenggut lingkungan hidup manusia.

Secara nyata, hal tersebut sudah terpampang jelas di depan mata. Peradaban manusia tidak lagi dijajah oleh oleh manusia lain, dari bangsa yang terkuat. Tetapi, manusia telah dijajah oleh buah tangannya sendiri: sampah plastik.

Sampah plastik hanyalah salah satu indikator yang menjadi masalah utama dalam aspek kerusakan lingkungan. Namun, melihat keniscayaannya, hal ini memberikan efek merugikan yang bahkan dapat merenggut nyawa manusia.

Dan itu terbukti ketika gas beracun meledak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, menewaskan ratusan orang yang tidak berdosa. Hidup dengan setiap harinya meneteskan keringat dalam labirin sampah. Para pemulung yang menjadi aktor alami pemfilter sampah daur ulang, mati dalam kuburan sampah.

Daya manusia seakan habis, ketika ekstraksi pemenuhan kebutuhan manusia yang berbentuk plastik, dengan slogan ekonomis dan praktis—yang, tentu saja, digaungkan para pegiat bisnis bahan pokok untuk keberlanjutan hidup mereka—ternyata balik menjadi salah satu momok yang mempercepat kematian manusia.

Laju perkembangannya sudah terlampau jauh, dan niat untuk menghentikannya, sudah sangat terlambat.

Lantas, apakah bumi benar-benar menjadi primadona untuk kehidupan manusia? Atau akan menjadi kerajaan sampah yang menggores tata lingkungan sosial manusia melalui bencana-bencana yang hadir dari ulah sampah plastik?

***

Kota-kota besar cukup pandai menampakkan kemolekan kotanya. Menjejerkan gedung-gedung pencakar langit, mall-mall raksasa, dan pasar swalayan berkelas dengan slogan komoditi higienisnya. Semuanya memproduksi barang-barang yang dikemas dengan plastik. Manusia-manusia kota diprogram dalam pengaruh budaya hedonis. Sehingga tingkatan daya konsumtif sangat tinggi dan pada akhirnya produktivitas sampah plastik ikut serta meningkat.

Daerah pinggiran kota menjadi korban. Membentuk gunung baru yang namanya sama sekali belum tercatat. Sebuah gunung yang tidak menghasilkan oksigen berkualitas, tidak untuk pendakian dan tidak untuk ditanami apapun. Gunung tersebut merupakan hasil dari penimbunan sampah secara berkala. Dan dalam waktu yang singkat menjadi kerajaan sampah.

Problemnya hadir pada jenis sampah plastik. Yang, waktu penguraiannya saja memakan waktu ratusan tahun. Dan pemandangan gunung tersebut sangat menyiksa mata. Bertolak belakang dengan gunung-gunung biasanya sangat menyejukkan mata.

Ketika daratan sudah penuh dengan gunung-gunung sampah hasil buah tangan manusia sendiri, belahan lain bumi seketika menjadi sasaran dari kerajaan sampah plastik, yaitu lautan. Keniscayaan tersebut bisa dilihat melalui perjalanan di atas kapal laut antar pulau di Indonesia.

Penampakan dari sampah plastik yang berayun-ayun mengikuti laju ombak, seakan menertawakan manusia yang minim sifat kemanusiaannya. Lambat laun, dunia manusia akan beralih kuasa. Kerajaan sampah plastik niscaya menjadi penguasa.

Lantas, apa langkah konkret manusia sendiri? Yang katanya khilafah di bumi, diutus atas amanah atau tanggung jawab Tuhan untuk menjaga bumi sesuai dengan rasio yang dimiliki manusia.

Korporasi-korporasi harus meminimalisir angka produksi. Berorientasi pragmatis dan hasilnya inovasi terhadap kemasan plastik.

Pemerintah sebagai pengatur laju kehidupan rakyat, mesti membuat regulasi yang tepat dan jeli. Jeli dalam membaca anomali-anomali yang terjadi di masyarakat.

Dan terakhir, rakyat. Merupakan elemen terpenting karena rakyat hadir sebagai aktor lapangan. Maka diperlukan kesadaran bersama dalam mengatasi problem sampah plastik.

Penulis: Defri Ramadan (Relawan Sekolah Anti Korupsi ke-14)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.