Beranda Suara Rakyat Opini KAMI INGIN MATA AIR, BUKAN AIR MATA

KAMI INGIN MATA AIR, BUKAN AIR MATA

159
0
BERBAGI

 

Sumber mata air di kota batu tidak hanya di akses oleh warga di sekitsr saja akan tetapi juga oleh masyarakat di kota Malang, yang dikelolah oleh PDAM dengan jumlah pelanggan sekitar 98 ribu. Bisa dibayangkan beban sumber mata air di kota batu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat begitu berat dan keberadaannya pun begitu vital. Akan tetapi fakta sumber mata air di lapangan bertolak belakang dengan kebutuhan masyarakat, di mana jumlah sumber mata air di kota batu semakin menurun di 111 titik sumber mata air yang tersebar di tiga Kecamatan.

Jumlah sumber mata air di Kecamatan Bumiaji, dari 57 titik sumber mata air yang ada, sekarang hanya tersisa 27 titik. Di Kecamatan Batu, dari catatan keberadaan 32 titik sumber mata air yang pernah ada, sekarang hanya tersisa 15 titik, sedangkan di Kecamatan Junrejo, dari 22 titik sumber mata air, sekarang hanya ada 15 titik.Maka penting keberlangsungan pelestarian keberadaan sumber mata air di kota batu tetap di lakukan, karena sumber mata air bukanlah sumber daya alam yang dapat di perbaharui agar senantiasa dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Usaha pelestarian sumber mata air 3 tahun belakangan ini dilakukan masyarakat di salahsatu Kecamatan di kota batu, yakni di Bumi Aji terhadap sumber Gemulo yang di area peresapan sumber tersebut akan di bangun hotel. Namun usahan perjuangan warga menemui jalan terjal di mana warga yang melakukan perjuangan di tuntut oleh pengembang hotel sebesar 30 Milyar, pengembang hotel tersebut telah melakukan proses pembangunan yang secara administratif tidak memenuhi syarat sah ijin pembangunan. Disamping itu Pemkot batu tidak segera memenuhi dan merealisasikan tuntutan warga yang ingin menjadikan daerah proyek pembangunan sebagai lahan terbuka hijau untuk resapan sumber mata air gemulo.

Pemkot kota Batu cenderung pasif serta tidak peduli terhadap aspirasi masyarakatnya dan rekomendasi dari kementrian lingkungan hidup RI, Komnas HAM RI, dan Komisi Ombudsman yang mendorong penghentian pembangunan karena permasalahan mal-administrasi dan dampak terhadap masyarakat dari pembangunan hotel tersebut. Jika demikian adanya maka sumber mata air sebagai sumber penghidupan warga akan lambat laun menjadi air mata tangisan masyarakat, dimanakah letak keadilan negeri ini, akan kah yang lemah selalu di tindas, dan hukum hanya tajam menghunus masyarakat kecil sedangkan tumpul untuk menghunus para pemilik kekuasaan dan uang berlimpah.Dengan aksi ini masyarakat merekomendasi beberapa hal;

1.Tegakkan aturan perlindungan bagi pejuang hak lingkungan hidup di pasal 66. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi “Setiap  orang  yang  memperjuangkan  hak  atas  lingkungan  hidup  yang  baik  dan  sehat  tidak dapat  dituntut  secara  pidana  maupun  digugat secara perdata.”

2.Hapus diskriminasi terhadap masyarakat pejuang hak atas lingkungan hidup dalam proses hukum, dimana masyarakat selama ini cenderung di sudutkan oleh pendapat-pendapat hakim dalam proses persidangan.

Selamatkan sumber mata air dengan menjadikan lahan proyek hotel the rayja sebagai ruang terbuka hijau, melalui realisasi janji-janji walikota Batu terhadap masyarakat yang sampai saat ini tidak ada kepastian eksekusi lahan dari pemkot Batu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.