Beranda Suara Rakyat Opini Kartini, Perempuan dan Gerakan Anti Korupsi

Kartini, Perempuan dan Gerakan Anti Korupsi

28
0
BERBAGI

Oleh : Arif Ramadhan[*]

“Bagi saya hanya ada dua keningratan, keningkratan pikiran dan keningratan budi”. R.A Kartini

Kartini adalah sosok perempuan yang menjadi cerminan gerakan perempuan di Indonesia. Kartini memberikan gagasan pendidikan untuk melawan perbedaan perlakuan terhadap kaum perempuan dengan laki-laki. Menurut Kartini perempuan harus memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Selain itu juga, Kartini melihat pada bidang pendidikan keberadaan pribumi dan orang-orang Belanda tidak setara, karena pada saat itu sistem pendidikan dikuasai oleh Belanda – sebagai peribumi hanya keturunan priyai atau bangsawan semata yang dapat menikmati kebutuhan pendidikan.

Oleh sebab itu, nilai yang ditawarkan oleh Kartini kepada perempuan tidak hanya mendapatkan status sebagai istri dan mengikuti keinginan suami, melainkan dapat mengubah kondisi zaman (peradaban). Estelle Zeehandelaar adalah perempuan Belanda yang selalu setia membaca isi hati Kartini melalui surat-suratnya. Surat-surat Kartini yang telah dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis toot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, yang diterbitkan pada tahun 1911.

Melalui surat-suratnya yang telah di bukukan, perasaan Kartini diperlihatkan, bahwa Ia bukan hanya sekedar perempuan keturunan priyai, malainkan dalam sanubari Kartini tertanam nilai-nilai sosial. Kartini merasa risih melihat perempuan diumur yang belia sudah mendapatkan status sebagai istri. Kisaran umur 30 sampai 40 tahun telah menjadi nenek. Karena pada saat itu, apa yang dipikirkan oleh Kartini tidak terbaca oleh perempuan pada umumnya. Ia berontak melihat sistem yang berlaku pada saat itu. Ada dua hal yang harus dilawan oleh Kartini, pertama Kolonialisme, Kartini melihat pribumi harus mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan kaum Londo (Belanda). Kedua, ia melihat sistem foedalisme yang berkembang di Jawa. Kartini menginginkan kebebasan selayaknya laki-laki, namun terhalang, sehingga perempuan harus menjadi santun, mengikuti keinginan laki-laki (ayah, saudara laki-laki dan suami), terparah bahkan harus siap untuk menjadi selir kesekiannya laki-laki.

Yang menarik dari kegelisahan pada sifat Kartini, bahwa ia tidak menerima perbedaan terhadap akses kehidupan yang seharusnya diperoleh setiap individu itu sama. Oleh karena kegelisahan tersebut, dewasa ini banyak gerakan perempuan yang menilai sosok kartini sebagai panutan untuk melawan deskirimasi baik terhadap perempuan maupun akses sosial seperti pendidikan yang ia gaungkan. Telah banyak gerakan perempuan yang memilih konsen dalam tindakan emansipasi, salah satunya adalah gerakan anti korupsi. Mereka sadar, bahwa melawan korupsi tidak hanya dapat ditangani oleh KPK maupun penegak hukum lainnya – diibaratkan seperti sifat Kartini semua itu harus diperjuangkan. Gerakan anti korupsi atau perlawanan terhadap korupsi harus diambil alih oleh setiap individu tanpa melihat gender. Karena perilaku korup telah mengambil hak hidup masyararkat untuk mendapatkan akses pelayanan dari negara.

Terdapat hal yang menarik dari buku yang ditulis oleh J. Danang Widoyoko dengan judul Oligarki dan Korupsi Politik di Indonesia, Ia menyampaikan harus ada titik temu antara gerakan anti korupsi dan gerakan perempuan. Danang melihat bawah korupsi memberikan dampak buruk terhadap perempuan. Lantaran tingkat ekonomi yang rendah dan secara politik tidak berdaya, perempuan tidak bisa menuntut hak dasar yang merupakan kebutuhan hidup mereka. Lebih lanjut Danang memperhatikan rendahnya keterwakilan perempuan terhadap politik dan minimya perhatian terhadap gender sehingga akses-akses dalam penentuan kebijakan terputus.

Oleh sebab itu, pentingnya perempuan dalam mengambil alih situasi pada penentuan kebijakan. Seperti yang tergambarkan pada sifat Kartini, Ia tidak bisa diam melihat kondisi yang timpang pada saat itu, hingga pada saat ingin dinikahi oleh K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat salah satu permintaanya adalah ingin mendirikan sekolah perempuan. Pada hari Kartini yang diperingati 21 April, menjadi hari yang diperingati sebagai perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh Kartini. Sayangnya gagasan dari Kartini hanya diperingati dengan menggunakan kebaya, konde dan perlengkapan wanita yang menggambarkan busana digunakan oleh Kartini. Masih banyak perempuan yang luput akan hak hidupnya, salah satunya melakukan perlawan korupsi untuk memberikan ketegasan, bahwa perempuan memiliki nilai yang sama dan hak pelayanan dasar perempuan lebih banyak dari pada laki-laki untuk dipenuhi oleh negara. Salah satunya perlindungan terhadap tindakan pelecahan seksual ditempat umum.

Dengan demikian, perempuan memiliki peran penting dalam melakukan perlawan tindakan korupsi. Perempuan adalah ibu yang merupakan sosok guru bagi anak-anaknya. Sifat keibuan dari seorang perempuan akan mengajarkan nilai hidup. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin bahwa perempuan itu jantung perlawanan terhadap korupsi karena perempuan adalah ibu peradaban. Dari perempuanlah nilai hidup itu ada. Didikan yang baik dilakukan oleh perempuan, maka akan menciptakan pribadi yang baik pula terhadap anak-anaknya dimasa yang akan datang.

Oleh karena itu, patutnya kita melihat semangat perempuan dalam memberantas korupsi seperti yang dilakukan oleh Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) – bentukan KPK, Koalisi Perempuan Indonesia, dan berbagai macam gerakan perempuan yang telah berkembang hingga saat ini.

Sumber

Buku:

Widoyoko, J. Danang. 2013. Oligarki dan Korupsi Politik di Indonesia. Malang. Setara Press

Web:

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1014456-menag-perempuan-jantung-perlawanan-korupsi. Diakses pada 8 Maret 2018.

http://www.dw.com/id/perempuan-punya-peran-penting-berantas-korupsi/a-41779225. Diakses pada 13 Desember 2017.

https://www.terakota.id/perempuan-rahim-masyarakat-ibu-peradaban/. Diakses pada 23 April 2017

https://www.terakota.id/kartini-sang-seniman-rakyat/. Diakses pada 23 April 2017.

[*] Aktif sebagai Badan Pekerja Malang Corruption Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here