Beranda Suara Rakyat KAUM KAFIR DAN PEJUANG KEBENARAN

KAUM KAFIR DAN PEJUANG KEBENARAN

137
0
BERBAGI

Good-v-Evil2

Sebelas tahun lalu Indonesia kehilangan salah seorang pejuang HAM yang sangat berharga. Munir Said Thalib, seorang putra nusantara meninggal di atas pesawat garuda dalam perjalanannya menuju Belanda untuk melanjutan studi. Munir dikenal sebagai aktivis yang fokus melakukan advokasi pada bidang perburuhan, reformasi keamanan, dan keterbukaan informasi. Kini sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan yang Ia lakukan, nama Munir diabadikan dalam berbagai bentuk.

Pemerintah Belanda mengabadikan nama Munir sebagai nama sebuah jalan yang disebut ‘Munirpad’ (Jalan Munir) di Den Haag. Amnesty International menamai ruangan pertemuannya dengan nama ‘Munir Kamer’ (Ruangan Munir). Warga Kota Batu sebagai kampung halaman Munir mengenang perjuangan sang aktivis dengan mendirikan sebuah museum yang diberi nama ‘Omah Munir’. Hingga saat ini Munir menjadi simbol penolakan lupa atas kejahatan HAM yang tidak terungkap di masa lalu.

Bila Munir merupakan representasi penolakan lupa atas kejahatan HAM di Indonesia, maka pada akhir bulan September lalu umat islam juga tengah mengingat pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hari Raya Adha sejatinya merupakan pengingat bagi seluruh muslim bahwa ber-Islam berarti berani berkorban. Diceritakan, demi memenuhi perintah Allah, Nabi Ibrahim harus mengorbankan sang anak kesayangan. Nabi Ismail pun rela menjadikan dirinya sembelihan sesuai perintah yang Ia dan ayahnya terima dari Allah sebagai bentuk ketaatan.

Empat belas abad lalu, ratusan bahkan ribuan umat muslim mengorbankan dirinya demi kebenaran yang mereka yakini. Tercatat sahabat Bilal bin Rabah pernah dijemur dan ditindih dengan batu ditengah terik matahari karena akidah yang Ia yakini. Umat muslim juga tidak akan lupa dengan siksaan yang diterima oleh keluarga Amar bin yasir ketika mereka memutuskan mempercayai Islam. Para sahabat yang memperjuangkan kebenaran memang selalu dihadapkan dengan resiko siksaan luar biasa. Namun, bagi mereka kebenaran jauh lebih berharga untuk diperjuangkan dibandingkan menyerah pada godaan serta siksa yang mengancam.

Mereka Yang Kafir

Pada kisah lain tentang Nabi Ibrahim, diceritakan seorang raja bernama Namrud yang menyembah berhala bersama rakyatnya. Nabi Ibrahim sebagai utusan Allah datang dan menantang Sang Raja untuk membuktikan ketuhanan para berhala. Alkisah, Namrud yang kesal karena tidak mampu meladeni argumentasi sang nabi, memerintahkan agar Nabi Ibrahim dibakar dihadapan khalayak untuk menunjukan apa yang akan terjadi bagi mereka yang mempertanyakan ketuhanan berhala-berhala yang Ia sembah. Sayang, keinginan Namrud justru berbalik sepenuhnya karena sang nabi masih tetap hidup meski telah dibakar oleh panasnya api.

Perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam pun tidak jarang diliputi dengan ancaman dan pengorbanan. Muhammad kerapkali digoda dengan tawaran harta, tahta, bahkan wanita. Ia bersama umatnya pernah diboikot dari hubungan perdagangan, pernikahan, serta komunikasi sosial lainnya. Namun Ia dan umat islam tetap gigih memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini.

Beratnya godaan serta derita ini bahkan digambarkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqoroh: 214).

Hebatnya, perjuangan para nabi selalu dipenuhi dengan nilai-nilai kesantunan. Metode yang digunakan bukan berupa kekerasan dan pemaksaan, melainkan dialog-dialog persuasif guna meyakinkan para pendengar. Meski dihadapkan dengan umat yang keras kepala, penguasa lalim yang aniaya, hingga kaum kafir yang terus melakukan kekerasan dalam upaya mengganggu penyampaian kebenaran, para nabi dan rosul terus berusaha menjaga sopan-santun dan tidak membalas perlakuan mereka. Para nabi dan rosul justru berdo’a agar hidayah merasuk ke dalam pikiran serta relung hati kaum kafir.

Menelaah cerita perjuangan para nabi, dapat kita lihat kaum kafir sangat lekat dengan ciri lalim, cinta pada kekerasan, dan menghalalkan segala cara demi mematikan penyampaian kebenaran. Tepat nampaknya bila para pembunuh Munir hari ini adalah representasi sifat ke-kafiran yang dahulu dimiliki oleh Namrud dan kaum kafir quraisy. Sementara Munir merupakan representasi penyampai kebenaran yang dahulu dilakukan oleh nabi dan kerapkali dihadapkan dengan godaan dan ancaman.

Sejatinya banyak orang yang hingga kini serupa dengan Munir. Mereka hilang dan dihabisi karena menyampaikan kebenaran yang mereka yakini. Widji tukul yang dikenal dengan puisi-puisi pro perubahan yang Ia bacakan, hingga kini hilang entah kemana. Marsinah juga berakhir dibunuh akibat upayanya memperjuangkan hak para buruh.

Terakhir Salim alias Kancil, petani yang menentang praktik pertambangan di Lumajang disiksa dengan sadis dihadapan khalayak. Mulai dari orang dewasa hingga anak-anak kecil menyaksikan sang pejuang anti tambang meregang nyawa setelah digergaji, dicangkul, dan diremukkan kepalanya dengan bongkahan-bongkahan batu. Mayatnya dibuang dipinggir jalan, dijadikan simbol peringatan bagi para pejuang agar tidak berani melawan.

Tidak Boleh Sia-Sia

Perjuangan para nabi dan rosul terbukti tidak berakhir tanpa hasil. Populasi umat muslim sebagai salah satu umat terbesar di dunia mengindikasikan keberhasilan tersebut. Ribuan kegiatan baik yang dipraktikan diseluruh ujung dunia dan ditahbiskan sebagai ajaran islam juga sangat mudah untuk ditemukan. Kebenaran bernama ‘Islam’ kini telah menyebar seantero negeri menjadi bukti pengorbanan para nabi tidaklah sia-sia.

Hal serupa seharusnya dapat terjadi pada pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang di Indonesia. Hilangnya Widji Tukhul, pembunuhan Marsinah serta Munir tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah semata. Mereka yang menjadi korban dalam memperjuangkan kebenaran boleh hilang fisiknya. Namun, semangatnya harus tetap dihidupkan dan diwarisi oleh generasi selanjutnya.

Semangat perjuangan yang dimiliki oleh Salim Kancil pun tidak boleh hilang dengan kematian sang aktivis. Pembunuhan sadis yang dialami oleh Salim merupakan cermin bahwa tidak hanya kasus pelanggaran HAM bukan sekedar cerita masa lalu. Salim adalah peringatan keras bagi Negara bahwa masih banyak pelanggar HAM yang berkeliaran. Abai dan lalainya Negara merupakan bentuk pengkhianatan yang nyata atas kedaulatan rakyat. Ahirnya, September tahun ini dibuka dengan semangat pergerakan HAM melalui peringatan kematian seorang pejuang HAM. Namun diakhiri dengan pembunuhan sadis seorang pejuang HAM.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.