Ketidakmampuan dan Keputusasaan

54
0
BERBAGI
Sumber gambar: lpmpendapa.com

Seringkali aku merasa benci pada diri sendiri. Atas ketidakmampuan, keputusasaan, atau persoalan yang kian mengesampingkan perempuan di mata khalayak tertentu.

Tak dikatakan tertentu, namun ku tegaskan kembali bahwa soal kesetaraan gender harus diletakkan pada tahta yang seharusnya.

Bukankah pelecehan, kekerasan, dan penindasan menimpa pada mereka yang tak berdaya? Hal yang selalu melekat pada gambar-gambar perempuan itu? Perempuan dan tradisi, perempuan dan pasar, perempuan dan Tuhan, perempuan dengan ini itu lain sebagainya.

Bagaimana kalau kata ‘lemah’ disematkan pada seorang laki-laki yang mempunyai jiwa seperti perempuan dengan segala masalah psikologisnya? Bukankah jiwa tak pernah salah memilih raga? Tak peduli siapapun dia, apa jenis kelaminnya, bahkan ras, suku, agamanya?

Sungguh, tak patut dipertanyakan kadar ke-perempuanan seseorang. Begitu pula sebaliknya, tak patut dipersalahkan kadar ke-jantanan laki-laki seseorang. Sebab, menurutku, tak ada tolak ukur pasti dari keduanya.

Kepastian hanya akan melekat pada mereka yang mampu menempati derajat terbaik versi mereka, bukan orang lain.

***

Kasus yang semakin marak hari demi hari, terpampang begitu rupa di dalam headline berita pagi. Sekian media massa memolesnya dengan strategi marketing terjitunya.

Aku begitu takjub. Setengah tak menyangka.

Bukan karena strategi marketingnya yang sangat presisi menyasar audiens, atau mungkin keberhasilannya dalam menarik perhatian nasional. Tidak, bukan itu.

Sayangnya, aku takjub justru dalam sisi yang paling negatif. Tak menyangka, mengapa mesti menyematkan sifat ‘marketing’ dalam menyebarkan kedukaan itu. Apa memang benar kalau hari ini segala sesuatu harus di ‘ekonomi’-kan?

Periode itu terus berlanjut. Kali ini, dalam babak barunya, Novia Widyasari Rahayu menjadi korban. Bukan saja korban dari petugas polisi bajingan dan keluarganya itu, tetapi juga konstruksi masyarakat, yang, salah satunya dipengaruhi oleh media.

Dunia perlu mengetahui korban dan keluarganya membutuhkan support, namun, dunia tak perlu terlalu membela jika masih memberi ruang bagi kesesatan media yang doyan memanipulasi dengan embel-embel ‘marketing’. Miris, derita orang lain tak perlu jadi ladang uang bagi segelintir orang.

Jika sudah begini, siapa yang mesti membela? Siapa yang mesti berpihak? Keberpihakan itu ada ditangan siapa? Feminisme dan Patriarki bersama antek-anteknya sudah mati hari ini.

Keberpihakan mulai lahir bersama bibit-bibit anak bangsa yang men-Tuhankan media diatas segalanya. Bahkan, sekelas Bupati atau Gubernur saja memiliki tim media khusus untuk memoles sebuah citra, begitu bukan?

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan salah seorang yang sudah lama tak ku jumpai. Ia adalah seorang wartawan pada masanya. Era Orde Baru. Saat ia masih menjalankan profesi tersebut di Surabaya. Sengaja tak kusebutkan namanya karena tulisan ini bukan untuk dibaca sebagai doa. Hanya sebagai dongeng pengantar saja di kala kalian ingin membaca. Tak ada paksaan dan kesan, isinya hanya pesan.

Ia berkata, “Saya selalu berjalan kemana-mana, tanpa pegangan yang pasti, jarang pulang, jika boleh memilih saya ingin menjadi wartawan kembali di masa ini.”

“Wartawan sekarang rumahnya gedhong-besar, punya mobil sekelas pejabat, kulihat raut mukanya ketika berpapasan tanpa keringat sedikitpun, sumringah rupanya ia bawa uang dari pejabat, hahaha.” Lanjutnya sembari tertawa kecil mengingat masa lalunya yang tak semudah sekarang.

Ya, aku kira memang keberpihakan membawa uang, atau mungkin juga sebaliknya, uanglah yang membawa keberpihakan.

Kembali ke Novia, namanya cukup asing bagi ku. Tapi, kisahnya sungguh dapat menarik empati setiap orang.

Salamku untuk Novia, “Surga tak pernah memilih, tapi neraka tak pernah berbohong, Tuhan menjamah pada tubuh yang jiwanya terguncang. Tapi, Tuhan-pun tak pernah berkata bahwa ketidaksucian berada diatas derita”.

Ia perempuan bukan wanita, sehingga menolak lah ia ketika diperdaya. Sampai akhir hayatnya, kalimat “perempuan yang melawan” masih tersemat, melekat di jiwanya. Sampai keputusasaan datang merenggut segalanya, ia tak berdaya atas ketidaksanggupan yang ada.

Ia dihampiri titik terendah dalam hidupnya. Begitu cintanya ia pada janinnya, ia korbankan harga diri untuk mengemis. Namun sayang seribu sayang, justru tuai cacian yang ia dapat. Tak ada kata untuk menyambung cerita, tak ada harapan untuk dirinya dan anaknya, sehingga takdir ini menimpanya.

Tak perlu lah ku jelaskan lebih dalam. Aku begitu yakin, tiap-tiap pasang mata yang mengurutkan deret huruf dalam tulisan ini, tiap-tiap otak cerdas dan nurani yang memberontak dalam sedih sekaligus marah, pastilah lebih paham.

Tetapi, izinkan aku, sedikit saja. Biarkanlah jari kecilku ini menulis lebih panjang. Meski dengan getaran dan sedikit gumaman, aku masih ingin menulis tentangnya. Tanpa maksud untuk menggurui sedikitpun.

Novia masih hidup di jiwa-jiwa yang lebih tangguh hari ini. Jiwa-jiwa yang masih sanggup menghadapi problematika seperti yang ia alami, atau mungkin lebih parah, problematika yang tak pernah terungkap dan diketahui sejauh ini. Dimanapun singgahnya jiwa-jiwa ini, aku hanya berharap kalian menjadi Novia yang lebih baik, lebih baik dalam memperjuangkan kebajikan, apapun itu. Sebab aku yakin, perempuan dan ketertindasannya tak akan mampu dihapuskan tanpa kesadaran manusia sebagai makhluk, tanpa mengurangi rasa hormat dan akal budinya.

Perlu diingat,

“Kebebasan yang diberikan atau dinisbahkan oleh orang lain adalah barang curian, kebebasan yang diperoleh atas diri sendiri (kesadaran kolektif individu) adalah mutlak karunia Tuhan” –Max Stirner.

Letakkanlah hak dan tanggungjawab serta akal budi diatas kursinya. Maka, kemanusiaan tak akan pernah memandang perbedaan.

Aku minta kalian agar tidak terjebak. Dari jebakan yang kurasa begitu berbahaya. Jebakan yang justru menyudutkan laki-laki sebagai gender yang paling bersalah.

Aku yakin, laki-laki pada posisi yang sama juga kerap kali menjadi korban dari kekerasan seksual. Ada begitu banyak faktor yang mendasarinya. Oleh karena itu, tak melulu perempuan yang menjadi korban. Perempuan menjadi korban karena konstruksi masyarakat yang tertaut dengan budaya patriarkis, yang selalu menempatkan perempuan dalam titik paling lemah, paling rentan akan kekerasan, sehingga membentuk stigma yang ada.

Dalam konstruksi masyarakat seperti ini, tentu, kalian, kita, aku dan kamu, akan sangat kesulitan untuk menyelesaikan problematika kita. Aku sadar, tak rasional memang kalau kita terus menggantungkan nasib kepada Tuhan. Tapi, adakah pilihan lain?

Polisi? Aku tak berharap banyak. Bahkan, sebenarnya untuk berharap sekedarnya pun aku enggan. Apalagi setelah membaca kisah Novia dan korban-korban sebelumnya.

Biro Kepolisian ini memang merupakan biro penegak hukum yang terburuk. Dan aku merasa kalau perbaikannya juga harus segera dikonsentrasikan, kesadaran penuh bahwa didalam jabatan terdapat integritas, harus lah pula dipertanyakan.

Pejabat? Apalagi.

Masyarakat hari ini seolah-olah dijadikan sebagai murid, sedangkan pejabat adalah gurunya. Bahkan dalam situasi seperti itu, sang ‘guru’ pun masih saja tidak bisa memberikan contoh yang baik.

Guru sebenarnya? Ah, sama saja.

Kalimat “digugu dan ditiru” mengalami krisis kemanusiaan. Seperti kasus Dekan Universitas Riau yang melakukan tindakan tak senonoh terhadap mahasiswinya. Perilaku yang tak kalah memuakkan ketimbang polisi bajingan pembunuh Novia.

Ia yang pada saat itu berperan sebagai Dosen Pembimbing Skripsi, menarik paksa mahasiswi bimbingannya untuk dicium. Bayangkan, seorang guru, dosen, orang yang seharusnya membimbing, justru menghancurkan hidup seorang perempuan. Jujur saja, bukankah ini pertaruhan image serta integritas kampus?

Yang paling parah, para pelaku pelecehan itu membungkusnya dengan kuasa relasi-materi yang ia miliki. Korban mengalami tekanan yang luar biasa karena ketidakberdayaannya untuk melapor.

Jabatan, kerapkali disalahgunakan oleh mereka yang mampu. Karena jabatan lah yang menjadikan mereka mampu. Sebaliknya, ketidakmampuan menjadikan jabatan semakin mampu dan memperkecil kesadaran. Bahwa, pada dasarnya, setiap orang dipaksa mengerti bahwa hukum itu ada, tapi kolusi menjadikan hukum itu tak ada artinya lagi.

Ayu Niken Agustin (Relawan Sekolah Anti Korupsi ke-14)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.