Beranda Informasi Konsolidasi Jaringan Anti Korupsi Jawa Timur

Konsolidasi Jaringan Anti Korupsi Jawa Timur

63
0
BERBAGI

24/08/2015_ Malang Corruption Watch (MCW) beserta Jaringan Pesantren (Salafiyah Sukorejo Situbondo, Nurul Jadid Probolinggo, Tebu Ireng Jombang), Aliansi Jurnalis Independen (Surabaya, Malang, Banyuwangi, Jember), perwakilan mantan buruh, Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Malang yang tergabung dalam Jaringan Anti Korupsi Jawa Timur (JAKOR JATIM) mengadakan pertemuan konsolidasi. Tidak semua 70 organisasi yang tergabung dalam JAKOR JATIM berkumpul pada kesempatan tersebut. Konsolidasi yang diadakan selama tiga hari mulai tanggal 21 sampai 23 Agustus 2015 di Kota Malang tersebut membahas beberapa hal yang patut diperhatikan oleh JAKOR JATIM yaitu pengawalan pilkada serentak, pengawalan dana desa, isu penguatan KPK, kinerja penegak hukum, dan maraknya kasus sengketa agraria. Tindak lanjut dari konsolidasi ini adalah setiap jaringan anti korupsi akan melakukan pengorganisasian ,advokasi dan mengejarkan jurnalisme warga kepada masyarakat sekitar sebagai langkah pencegahan dan pemberantasan korupsi di wilayah masing-masing jaringan.


Hari pertama JAKOR JATIM menghadirkan narasumber pakar hukum dan advokat senior, Setyo Eko,untuk memberikan pengantar diskusi yang fokus membahas advokasi. Setyo Eko berpesan bahwa keterampilan yang diperlukan dalam melakukan advokasi adalah empati, komunikasi efektif, team work, organisasi-koordinasi, dan critical thinking. Penjelasan dari narasumber menjadi refleksi bagi JAKOR JATIM dalam melakukan advokasi pada saat menangani suatu kasus baik secara litigasi maupun nonlitigasi.

Di hari kedua, JAKOR JATIM menghadirkan Abdullah Dahlan, Kepala Divisi Pengelolaan Jaringan Indonesia Corruption Watch (ICW). Abdullah Dahlan memberikan pengantar diskusi mengenai pengorganisasian yaitu pentingnya membangun pertemanan dan persahabatan dengan komunitas masyarakat. Sebagai representasi rakyat masyrakat sipil harus tetap dekat dengan rakyat dan menjadikan rakyat sebagai basis gerakan social untuk perubahan. Setelah menerima materi, peserta pelatihan melakukan Focus Group Discussion (FGD) mengenai pengorganisasian warga untuk menghadapi beberapa isu ke depan seperti pilkada serentak, pengawalan dana desa, dan lain-lain.

Hari terakhir, Minggu 23 Agustus 2015, peserta konsolidasi berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai jurnalisme warga dengan menghadirkan mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Malang, Eko Widianto. Eko menuturkan bahwa jurnalisme warga penting dilakukan agar isu-isu penting yang tidak terangkat oleh media massa mainstream bisa menjadi perhatian publik. Sudah saatnya warga juga memahami jurnalistik sebagai media perlawanan terhadap kaum penindas. Eko mencontohkan kasus Rembang yang tidak mendapatkan perhatian dari media massa mainstream, maka di sana jurnalisme warga dapat bergerak.

Konsolidasi selama tiga hari tersebut menghasilkan sebuah maklumat untuk melakukan pengawalan secara bersama-sama terhadap beberapa isu penting seperti pemilihan Kepala Daerah, Penguatan gerakan anti korupsi di Jawa Timur, pemantauan implementasi Undang-Undang Desa, mendorong pelayanan publik yang anti-diskriminasi dan berkualitas (pendidikan dan kesehatan) dan mengawal kasus agrarian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.