Beranda Suara Rakyat Mahasiswa dan Negara Sakit

Mahasiswa dan Negara Sakit

67
0
BERBAGI

Gerakan-gerakan yang mengakar dikalangan pemuda entah mengapa seakan mati suri. Seakan mereka tak punya musuh lagi. Kehilangan taji dalam beraksi. Berderet revolusi yang dilakukan oleh pemuda telah tercatat dalam sejarah bangsa. Peristiwa bangkitnya organisasi budi utomo, sumpah pemuda dan gerakan lain menentang kolonialisasi. Tuntutan pemuda ketika peristiwa malapetaka 15 januari (MALARI), hingga gerakan reformasi 1998 telah melahirkan Indonesia baru. Namun kini, seakan tak ada musuh lagi. Kolonialisasi hilang secara fisik, kediktatoran menjelma di tubuh demokrasi dan kekuasaan beralih ke tangan korporatokrasi yang senantiasa mengerayangi kepentingan anak bangsa. Lalu pertanyaannya kemana para titisan pemuda revolusioner?

Indonesia menghadapi musuh baru saat ini. Secara kasat mata kita tidak terjajah lagi. Namun setiap hari sebenarnya kita merasakan keganasan kekerasan sebagai mana masa colonial. Perlu diketahui kekerasan bukan terhenti pada penyakitan secara fisik. Kekerasan tertinggi adalah kekerasan terhadap harkat martabat manusia sebagai statusnya. Kita ini rakyat tidak dianggap rakyat. Rakyat hanya dijadikan tumbal legitimasi atas kepentingan palsu segelintir orang. Analoginya, dihadapan orang banyak, anda saya pukul dengan anda saya ludahi dan dengan ibu anda saya maki-maki, lebih sakit mana? Inilah yang dilakukan oleh Negara yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia, namun Meludahi rakyat dengan tindakan menyimpang dari kepentingan bersama. Korupsi, abuse of power dan banyak penyakit kronis yang tak terinventarisasi. Sehingga hal ini memunculkan krisis legitimasi atas keadilan. Keadilan sebagai barang public yang wajib disediakan oleh pemerintah mengalami kegagalan. Lalu kemana rakyat mau mencari keadilan?

Rakyat kita sudah terlalu sabar menghadapi masalah pemerintahan semacan ini. Rakyat kita sudah kebal diludahi setiap hari. Toh korupsi dimana-mana rakyat kita masih santai, cangkrukan sambil ngopi-ngopi, ngobrol sana-sini seakan tak ada masalah yang mengancam kelangsungan hidupnya. Rakyat kita baru benar-benar revolusi kalau sudah tidak bisa makan lagi. Namun apakah kita mau menunggu orang tidak bisa makan baru revolusi? Perlu adanya revolusi kecil-kecilan untuk menyokong revolusi yang lebih besar. Agar revolusi tidak pemenumpahkan darah seperti revolusi pada umumnya di dunia. Dalam sejarah saya belum pernah melihat ada revolusi yang tidak berdarah-darah. Bolshevik dan kuba adalah revolusi yang menumpahkan banyak darah. Sekarang di timur tengah tengah terjadi pergolakan berdarah juga. Apa Negara kita ini mau meniru yang sedemikian rupa? Maka dari itu perlu adanya perubahan secara radikal dan santun untuk menambal kekosongan-kekosongan dalam bernegara.

Pemuda yang dalam hal ini saya kerucutkan menjadi mahasiswa seharusnya menyadari peran sosialnya. Sebagai kaum intelektual sangat jelas gramcy mengatakan intelektual haruslah bersifat organic. Yaitu intelektual yang mengorgan pada system yang lebih besar. Tidak bersifat elitis, merasa mendapat sebuah superioritas karena intelegensi. Sehingga ketika organ ini hilang maka terjadi keguncangan dalam tubuh. Tidak ada stabilisator ataupun detoksifikasi atas racun social yang terjadi. Bahkan yang lebih parah lagi mahasiswa manjadi racun itu sendiri. Penyadaran kritis haruslah segera diselesaikan agar ada suara-suara keberanian dan kejujuran yang dulu nyaring terdengar. Bagaimana mahasiswa dapat mengembalikan bargaining position yang dulu diperhitungkan namun kini hampa? Bagaimana mahasiswa merubah idealisme yang seolah-olah tertawan di ruang perkuliahan yang mengekang? Sehingga dari sini akan kembali sifat kritis sebagai senjata utama dalam mengupas berbagai isu persoalan bangsa, utamanya korupsi, serta memperjuangkan aspirasi rakyat.

Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali praksis secara nyata untuk menindak dan mencegah segala macan penyelewengan yang merugikan kepentingan rakyat. Bangsa ini berdiri dan mengamanahkan kesejahteraan umum, mencerdaskan anak bangsa dan keadilan social. Tiga hal yang selama ini tidak pernah secara nyata diimplementasikan. Maka dari itu peran sebagai agent of change perlu dibumikan kembali. Agar tidak hanya diteriakkan ketika mendoktrin namun direalisasikan secara nyata.

Oleh Zein Ihya Ulumuddin, Kepala Divisi Riset MCW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.