Beranda Suara Rakyat Masa Depan Perubahan

Masa Depan Perubahan [Catatan Tanggapan Terhadap Tulisan “Menciptakan Peristiwa Perubahan”]

267
0
BERBAGI

Catatan 1644 kata dengan tema “Mencipta Peristiwa Perubahan” merupakan refleksi seorang “Pencipta” yang istiqomah meng-ada, bukan meng-ada-ada. Istiqomah akan menciptakan perubahan pada komunitas, akan tetapi terkadang harus memikirkan sendiri mengawal peristiwa perubahan itu.  Lebih ironis lagi, sang Pencipta harus larut pada pusaran peristiwa perubahan. Sehingga tak ada waktu selain mencipta peristiwa dan mengawalnya sendiri.

Tentu sebagai salah satu buah dari “Mencipta Peristiwa Perubahan” mempunyai tanggung jawab untuk merefleksikan perubahan itu. Karena peristiwa perubahan yang telah menjadi sejarah atau masa lalu yang tidak tercatat telah menghasilkan buah perubahan. Wajar apabila buah dari “Mencipta Peristiwa Perubahan” memikirkan secara kritis tentang perubahan peristiwa yang diciptakan.

“Mencipta Peristiwa Perubahan” sebagai sajian pengantar dialektika berpikir memberikan satu warna baru dalam menafsiri realitas sosial. Setidaknya, dalam catatan itu, ada dua poin besar bagi para pegiat sosial agar menginspirasi publik luas yaitu; tidak terjebak pada rutinitas kerja belaka dan selalu menyuburkan ruang persemaian inspirasi.

Dua postulat di atas, menurutku, hasil refleksi seorang Pencipa dalam melintasi hamparan kerikil-kerikil tajam dunia aktivisme. Terkadang postulat itu selaras dengan kesadaran sebagian orang yang melintasi sejarah hidup dengan kerikil, tapi sebaliknya berbeda dengan kesadaran seseorang yang melintasi  dunia “aktivisme”  dengan hidup nyaman dan fasilitas yang memadai.

Sejarah yang berdeda dalam melintasi hidup, tentu tidak serta-merta dijadikan dalih untuk menilai seseorang sebagai “tukang” dan atau intelektual. Karena hari ini cukup banyak kumpulan intelektual secara tidak sadar sebenarnya kumpulan para “tukang”. Kumpulan para “tukang” yang membantu kepentingan pemilik modal.

Pergulatan Ideologi

Pergulatan sebagai intelektual dan atau “para tukang”, sejatinya, merupakan sebuah perjuangan mempertahankan ideologi. Tentu kita harus teliti melihat pergulatan ideologi ini. Karena cara, waktu, dan jarak pandang melihat sebuah ideologi akan berimplikasi pada kesadaran palsu [false consciousness].

Berbicara tentang kesadaran, maka ingatan kita akan langsung dibawa pada pandangan Jean Paul Satre. Seorang filsuf asal Prancis yang pemikirannya cukup radikal dan berbobot. Satre mengatakan tidak ada kesadaran yang tak mengafirmasi sesuatu di luarnya. Dunia benda-benda menjadi terpahami karena kesadaran. Kesadaran memaknai dunia meski tidak menciptakannya. Tanpanya dunia adalah bongkahan padat tanpa makna. Sebagai contoh sederhana, gunung mendapatkan makna estetis oleh seorang seniman, makna praktis oleh seorang petani, dan makna petualangan oleh seorang pendaki.

Kesadaran yang berbeda di atas, menurutku, akan terjadi pula pada kalangan pegiat sosial yang berada di dunia aktivisme. Perbedaan kesadaran ini harus terekpresikan dalam ruang dialektika [refleksi dan aksi]. Terkadang ruang refleksi dan aksi menguras emosi dalam memperjuangan ideologi dan mimpi. Walaupun emosi terkuras, akan tetapi sebenarnya kita telah berusaha mengambil peran dalam ruang dialektika itu. Lazim ketika mengambil peran terkadang sebuah gagasan diterima, ditolak, bahkan “tak tampak” dalam arus dilektika pemikiran. Dititik ini, sebenarnya, kita sudah mengawali peristiwa perubahan.

Ada sebuah adagium menarik yang pernah terdengar melalui gendang telingaku. Lebih baik jadi kepala ayam daripada menjadi ekor kerbau. Akan tetapi, menurutku, akan lebih parah apabila kita hanya menjadi ekor ayam, dan “aku sendiri” lebih “takut”[1], bukan “cemas”[2], lagi jika tak seorang pun yang menjadi kepala ayam.  Apabila kondisi ini terjadi, maka peristiwa perubahan itu hanya bayang-bayang ilusi dan ideologi itu hanya sebagai kesadaran palsu. Pada poin ini saya hanya mengalami “ketakutan”, bukan “kecemasan”.

Kutipan menarik yang pernah aku baca dalam buku being and nothingness,“if our consciousness were not consciousness of being consciousness of the table [pen. Kalimetro community] without consciousness of being so, in other words, it would be consciousness ignorant of itself, an consciousness –which is absurd.” Adapun terjemah bebasnya begini, “ jika kesadaran kita bukan kesadaran tentang kesadaran kita atas meja [pen. Komunitas Kalimetro], maka jadinya adalah kesadaran atas meja [pen. Komunitas Kalimetro] tanpa menyadarinya, itu berarti kesadaran yang tak sadar akan dirinya, sebuah ketidaksadaran –betapa absurdnya”.  Kutipan ini menarik untuk direnungkan oleh kita semua yang sedang membangun peradaban di Indonesia, dalam lingkup kecil di Komunitas Kalimetro.

Etika sebagai Cahaya.

Ketika pergualatan ideologi berujung pada sebuah kesadaran yang palsu, maka sudah sepatutnya kita menyandarkan gerak-gerik langkah kita pada cahaya etika. Cahaya etika ini menjadi pandu untuk menjalankan perbuatan.

Ada satu pemikiran yang bisa kita jadikan gambaran cara etika menjalankan perannya. Secara teoritis pemikiran tentang etika ini banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Imanuel Kant dan G. W. F Hegel.

Immanuel Kant, menurutku/kantian-, sebagai tonggak etika modern telah menelurkan satu prinsip dengan semangat aufklarung, atau sering disebut prinsip otonomi moral. Kita sudah seharusnya meletakkan etika tidak hanya berkutat lagi pada persoalan bagaimana hidup baik dan mencapai kebahagian. Kita seharusnya meletakkan nilai etis perbuatan tidak hipotetis [demi tujuan yang lain], melainkan kategoris [karena wajib]. Contoh sederhana, kita mencipatakan peristiwa perubahan dan atau melakukan advokasi kasus bukan karena untuk menjadi pahlawan, hero dan etc, melainkan kewajiban kita sebagai individu yang hadir dengan kesadaran.

Otonomi moral, menurutku dalam skala terkecil, sudah sepantasnya ada pada pegiat sosial di Komunitas Kalimetro sebagai salah satu gerakan masyarakat sipil di Malang Raya. Sikap otonomi moral seharusnya merasuki ke elemen-elemen terkecil dari komunitas. Bahkan lebih ekstrim, apabila nyamuk-nyamuk yang menemani kita setiap malam berbicara, hati kecil ini berharap moral mereka juga otonom. Tentu sikap otonomi moral ini harus didasari dengan rasionalitas.

Perubahan Peristiwa: Rasionalitas VS Irasionalitas

Hegel, [baca: Element of Philosophical Right], memberikan syarat rasionalitas bagi suatu tatanan masyarakat/komunitas apabila ingin mendapat ketaatan dari individu di dalamnya.  Contoh sederhana, apabila suatu tatanan tidak lagi mewadahi otonomi dan martabat manusia, artinya Negara jatuh pada rezim otoriter, maka tidak ada alasan untuk tetap menaatinya.

Saya menilai, rasionalitas sebagai kriteria dan atau syarat ketaatan moral mempunyai kelemahan yang besar dan tidak kritis. Masih ingat dalam pikiran saya pada satu pandangan Marx yang mengatakan rasionalitas bisa menjadi topeng dari bersembunyinya irasionalitas. Contoh sederhana, negara kapitalisme adalah tatanan rasional, karena mewadahi otonomi warganya dalam berusaha dan berkompetisi dalam bidang ekonomi. Namun, hal itu menjadi irasional ketika terjadi konglemerasi dengan mengisap tenaga buruh. Jurang antara rasional dan irasional ini dalam pandangan posmodernisme dikatakan sangat tipis dan bahkan dianggap tidak ada. Pada titik ini kita harus meredifinisikan rasionalitas sebagai tatanan yang mewadahi kebebasan, otonomi, serta martabat individu, dan menjaga jangan sampai kebebesan kelompok melenyapkan kebebasan yang lain.

Dengan demikian, kita harus berhati-hati dalam menciptakan peristiwa perubahan. Peristiwa perubahan yang tak berkesadaran akan membawa pada perubahan semu dan ilusi. Yang tampak dipelupuk mata perubahan yang rasional, tapi sebenarnya tersembunyi sebuah persitiwa yang irasional.

Mazhab Kalimetro sebuah Mimpi

Setalah lima tahun lebih menyatu dalam diri Komunitas Kalimetro, saya sangat kesulitan mengindentifikasi aliran pemikiran yang terjadi di Kalimetro. Dari kemacetan dan kegaduhan Jakarta, saya mulai mempelajari proses dialektika dan aliran-aliran yang terjadi di dalam komunitas itu.

Pada Fase “pembuahan” komunitas ini berdiri, pendekatan yang dibangun di Kalimetro melalui pendekatan determinisme ekonomi [materialisme historis]. Pendekatan determinisme ekonomi ini merupakan pandangan Marx. Ini dibuktikan dengan isi obrolan santai di Komunitas Kalimatero tentang posisi Negara [masyarakat politik] yang berdiri berhadapan dengan masyarakat sipil. Negara dipandang sebagai representasi basis struktur atau kepanjangan kelas berkuasa.

Fase kedua saya sebut sebagai fase “peralihan”. Suatu fase dalam komunitas ini yang mulai mengkritisi pandangan Mark tentang determinisme ekonomi. Para pegiat komunitas ini mulai berani melakukan otokritik terhadap diri sendiri. Keberanian ini muncul karena berangkat dari kritik tajam Gramsci, seorang marxis asal Italia, terhadap marxis yang melihat kekuasaan berpusat di Negara.

Gramsci sendiri berpandangan bahwa Ideologi yang dominan tidak hanya dimenangkan oleh lewat jalan kekerasan oleh intitusi Negara, melainkan juga dengan jalan “hegemoni” melalui institusi yang terdapat dalam masyarakat sipil.  Kritik tajam Gramsci ini yang sedikit banyak memengaruhi cara bepikir para pegiat di Komunitas Kalimetro. Para pegiat mulai memahami bahwa ideologi dominan meresap ke kelompok sub ordinat dengan jalan persuasi dan melalui kepemimpinan kultural.

Pada fase kedua tersebut, para pegiat mulai memikirkan siapa menghegemoni siapa. Akibatnya, tak banyak dari mereka yang duduk bertahan, sebagian dari mereka duduk manis sendiri dan menerima takdir [“tabrakan”] sejarah untuk belajar bersama harapan dan mimpi, bahkan sebagian lagi ada yang mencoba  mengambil bagian ke sktruktur kuasa. Tak ada keramaian rutinitas kerja. Tiap siang dan malam, dalam komunitas itu, yang terdengar hanya obrolan santai tentang mimpi yang ditemani suara laron di kala hujan tiba. Fase “paceklik” ini hanya dilalui dengan mengalir bak air yang berusaha tidak melukai bebatuan.

Fase ketiga, menurutku, akan menjadi momentum untuk membangun komunitas. Fase ini memang belum muncul, akan tetapi ada titik-titik cahaya yang bisa membawa pada satu fase pencerahan. Fase dimana ruang dialektika sudah mulai terbuka, semua gagasan mulai diperdebatkan, bekerja merupakan menciptakan perubahan, serta menginspirasi publik luas. Fase yang tak ada lagi “kecemasan”, “bukan ketakutan”. Fase yang memberikan sumber kemandirian ekonomi. Fase yang hanya berkarya untuk negeri. Fase yang tak lagi mempersoalkan kamu dan aku siapa, akan tetapi membincangkan apa yang bisa kita ciptakan untuk negeri. Pada fase ini diharapkan muncul mazhab baru ala Kalimetro.

[1] Takut dalam bahasa Inggris disebut  Fear. Artinya ketakutan akan sesuatu itu bisa dhilangkan. Misalnya, kita takut kedatangan seseorang yang ingin meminta uang pinjamnya, kita bisa melenyapkan rasa takut tersebut dengan membayar utang-nya.

[2] Cemas dalam bahasa Inggris disebut Anxiety. Cemas akan suatu hal  tidak bisa dihilangkan layaknya benalu yang senantiasa menggayuti ruang sadar kita. Cemas berhadapan dengan masa lalu dan masa depan. Artinya saya cemas karena saya sadar bahwa keberadaan saya sekarang tidak dapat menentukan tindakan saya di masa yang akan datang. Apa yang telah dan akan saya lakukan murni sebuah kemungkinan.

Oleh M. Didit Saleh

*Tulisan ini dimuat dalam buku Ilusi Demokrasi Lokal, Intrans Publishing, 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.