Beranda Suara Rakyat Pola Asuh Anti Korupsi

Pola Asuh Anti Korupsi

165
0
BERBAGI

Suatu ketika Andy bertanya “Mengapa menurut Anda penting, mengajar anti korupsi di taman kanak-kanak atau PAUD?”

“Karena saya ingin mendengar pada suatu masa, mungkin 100 tahun mendatang, ketika saya bertanya kepada anak-anak yang telah dewasa itu, ‘apakah di tempatmu masih ada korupsi?’ Kemudian mereka menjawab ‘Korupsi? Apa itu Korupsi? Binatang purbakala kah itu?’ ” Begitulah jawaban Abraham Samad pada program talkshow Kick Andy edisi perilaku korupsi di Indonesia, Jumat 3 Oktober yang lalu.

Tentu saja cita-cita Abraham menjadi bagian dari cita-cita kita semua, bahwa di kehidupan yang akan datang, berharap tiada seseorang pun yang mengenal kata korupsi. Artinya, tiada satu pun generasi muda bersentuhan dengan api korupsi di masa dewasanya nanti, baik dalam skala yang paling kecil yakni keluarga hingga skala yang paling besar yakni negara atau bahkan tingkat dunia.

Dewasa ini kita secara sadar dan pra sadar sedang awas dengan itu. Ibarat kutukan penyakit menular, korupsi menjadi suatu teror tersendiri bagi masyarakat saat ini. Satu sisi korupsi adalah hal menjijikkan yang ingin dihindari dengan berbagai jampi-jampi. Tetapi di sisi lain, korupsi tidak dapat dinafikkan dan kehadirannya begitu mengagetkan kita semua dengan berbagai kejutan menggelikan. Seakan perilaku korupsi adalah  tulah nenek moyang yang datang tiba-tiba dan kita tidak pernah tahu dari mana asalnya.

Darimana Datangnya Korupsi?

Pertanyaan ini sudah sering muncul dan coba untuk dijawab. Ada beberapa referensi yang patut Anda selidiki. Seperti artikel berjudul ‘Darimana Datangnya Korupsi’ yang diunggah di kanal sosial-budaya jakartabeat.net, ditulis oleh Taufiq Rahman (founder Jakartabeat dan redaktur politik harian The Jakarta Post) berdasarkan buku Tim Hanningan berjudul Raffles and the British Invansion of Java dan buku karya Francis Fukuyama berjudul The Origins of Political Order: From Prehuman Times to the French Revolution. Menurut Taufiq Rahman, kedua buku tersebut sedikit banyak dapat membantu Anda untuk mengetahui kapan korupsi mulai menggejala dan situasi yang kita tanggung sekarang ini adalah akumulasi dari pengendapan sejarah. Secara historis, jawaban dari mana datangnya korupsi, adalah dari era VOC ini lah korupsi sistematik menjadi gejala di Hindia Belanda.

Selain korupsi merupakan warisan sejarah turun temurun yang telah dilakukan secara sistemik, ternyata korupsi juga lahir akibat dukungan sosial. Sangat memungkinkan bahwa cikal bakal datangnya korupsi itu bermula dari lingkungan pertama kita tinggal yakni adalah keluarga. Dusta sejarah itu semakin memperkencang kemungkinan-kemungkinan tumbuhnya korupsi yang kini juga melumpuhkan pertahanan keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenal oleh generasi muda. Tidak heran suburnya praktik korupsi di zaman ini, juga karena kesalahan pola asuh pada level keluarga.

Pola Asuh Anak

Hal ini menjadi serius, mengingat keluarga merupakan bagian fundamental masyarakat yang menentukan kepribadian seorang individu. Sebelum menentukan bagaimana sikap orangtua bertindak, sebaiknya Anda mengetahui karakteristik perkembangan anak berdasarka fase-fase yang dilaluinya.

Erik Erikson memperkenalkan 8 tahapan perkembangan yang dilalui individu pada buku Life Span Development oleh J.W Santrock. Masing-masing tahapan terdiri dari tugas perkembangan yang khas dan mengedepankan individu untuk bertemu dengan krisis-krisis yang harus ia selesaikan. Tahapan perkembangan psikososial tersebut dipercaya menjadi teori mutakhir tentang kepribadian manusia, melalui fase perkembangan dari usia paling dini (Trust vs Mistrust) hingga usia paling lanjut (Integritas vs Despair). Menurut Erikson, ego manusia akan selalu berubah seiring bertambahnya pengalaman dan informasi yang masuk pada diri seseorang melalui berbagai macam interaksi sosial.

Pola asuh yang tepat akan menyukseskan setiap langkah tahapan manusia. Berbagai macam resiko akan muncul jika terdapat pola asuh yang tidak tepat, misalnya akan menimbulkan konflik pada tahapan perkembangan selanjutnya. Pada tahapan perkembangan kedua, yakni fase anak-anak  (Autonomy vs Shame and Doubt) serta pada tahapan perkembangan ketiga, yakni fase pra sekolah (Initiative vs Guilt), menjadi fase yang dapat dikontrol penuh oleh orangtua. Pada fase itu, Anak berada pada posisi usia Golden Age, dimana terdapat penyerapan informasi yang berlangsung secara optimal dan signifikan.Oleh karena itu, pola asuh pada fase-fase perkembangan ini perlu menjadi perhatian utama para orangtua untuk menginisiasi nilai-nilai kebaikan pada anak.

Agar tidak menjadi abstraksi saja,  sejatinya pola asuh seperti apakah yang dapat meminimalisir terjadinya perilaku korupsi pada masa dewasa anak-anak?

Ada beberapa klasifikasi pola asuh yang santer menjadi bahan pembicaraan, yakni pola asuh tipe demokratis, otoritatif dan permisif. Memiliki kecenderungan terhadap salah satu tipe pola asuh, nampaknya bukan sebuah pilihan yang baik, mengingat ketiganya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Untuk menyukseskan inisiasi nilai-nilai kebaikan sebagai langkah awal memupuk sifat anti korupsi, sejatinya pola asuh orang tua haruslah berlangsung dinamis, artinya sesuai dengan masa perkembangan dan kebutuhan anak. Hal tersebut akan menjadi efektif ketika ada kerjasama yang baik antara ayah dan ibu untuk membina kedisiplinan, bersepakat antara kompromi yang boleh dan yang tidak, sehingga terjadi keselarasan antara nilai atau norma yang diajarkan bersamaan dengan perilaku positif yang dipraktikkan.

Menerapkan Konsistensi dan Konsekuensi

Kita sudah hidup dengan nilai dan norma semenjak kita dilahirkan. Respon setiap individu mungkin tidak dapat disamakan, terdapat respon yang adaptif atau mungkin yang mal adaptif bagi masing-masing individu. Datangnya perilaku korupsi tentu bukanlah akibat nilai dan norma itu kurang banyak jumlahnya. Namun juga kiranya tiada sebuah keluarga memproduksi anak-anaknya untuk menjadi seorang pencuri, penjahat, perampok sekalipun koruptor. Lalu dimana letak kesalahannya?

Pertama soal konsistensi. Nilai dan norma itu tumpang tindih bersama dinamika kehidupan yang melingkupinya. Barangkali orang tua tidak akan alpa untuk mengajarkan nilai-nilai baik di sela-sela interaksinya dengan buah hati, sesuai dengan tata kehidupan normatif, misalnya seperti kejujuran, kepekaan, berbudi pekerti baik, tanggung jawab, kedisiplinan dan segudang lainnya untuk menopang pembentukan karakter (character building). Namun seringkali nilai-nilai itu justru tereduksi secara nir-sadar oleh praktik atau kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya sepele, mulai dari cara pandang atau persepsi terhadap problema yang tidak tepat, hingga bentuk-bentuk penyalahgunaan toleransi untuk memudahkan suatu kondisi. Inkonsistensi di lingkungan keluarga inilah yang perlu kita perbaiki sejak dini, khususnya orang tua sebagai pemegang kemudi atas tumbuh dan berkembangnya seorang individu.

Kedua, mengenai konsekuensi. Orangtua seringkali kompromi terhadap konsekuensi yang harus diterima oleh anak-anak. Hal ini terkait dengan ketidakajeg-an orangtua untuk menegakkan aturan-aturan yang telah dibuatnya sendiri. Padahal selama pelaksanaan konsekuensi sesuai dengan konteks yang mengikutinya, orangtua tidak perlu cemas atau khawatir dengan respon anak-anaknya. Selaras dengan itu, Orangtua juga mestinya punya keterampilan menjelaskan mengapa konsekuensi itu harus anak-anak mereka terima, terlebih lagi pada tahap awal perkembangan psikososial. Dengan begitu, tidak hanya anak saja yang belajar, namun orangtua juga berperan aktif menggungah rasa serta mengasah keterampilan berfikir anak.

Menerapkan konsistensi dan konsekuensi pada pola asuh dapat menjadi solusi preventif tumbuhnya bibit-bibit korupsi di level lingkungan keluarga. Antisipasi sejak dini ini semoga memiliki manfaat untuk mereduksi gejala-gejala perilaku korupsi di masa dewasa seorang individu.

Oleh: Mutia Husna Avezahra (Relawan MCW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.