Beranda Suara Rakyat Opini POLITIK UANG MELAHIRKAN PEMIMPIN BERMENTAL KARDUS

POLITIK UANG MELAHIRKAN PEMIMPIN BERMENTAL KARDUS

44
0
BERBAGI

 

Namun, kenyataannya partisipasi masyarakat terhadap pemilu di kacaukan oleh praktek politik uang dan politik transaksional yang dilakukan oleh para calon legislative dan partai politik. Dimana dari temuan MCW sampai tanggal 26 maret 2014 kami menemukan sebanyak 58 pengaduan tentang dugaan praktik politik uang, tersebar di beberapa kecamatan, 16 pengaduan di Blimbing, 16 pengaduan di Kedungkandang, 4 pengaduan di lowokwaru, 14 pengaduan di sukun, 8 pengaduan di klojen. Praktik politik uang menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pembelajaran politik yang baik melalui praktik pemilu, hanya disuguhi praktik-praktik culas dalam melegitimasi sebuah kekuasaan.

Praktik politik uang yang marak dilakukan oleh hampir seluruh oknum caleg partai politik, sudah lumrah di lakukan secara berjamaah dan alasan rasional menurut beberapa caleg adalah; karena semua caleg melakukan itu, jikalau salah satu caleg tidak melakukan maka dia akan kalah. Pada titik inilah partisipasi masyarakat untuk menentukan pilihannya bisa jadi tidak rasional, yang memutus relasi konstituen dengan mandat kekuasaan yang diberikan pada calon legislative terpilih, sehingga pemilu sudah tidak lagi mengarah pada perwujudan Demokrasi yang beradab.

Disamping praktik politik uang, pemilu juga dihadapkan dengan permasalahan tingginya angka golput di setiap event pemilu, berkaca dari pemilu walikota dan gubernur di kota Malang dari DPT di KPU jumlah pemilih sekitar 559,053 dan yang menggunakan hak pilihnya sekitar 357.796 dan yang golput sebanyak 201.257 sekitar 30 % lebih yang mungkin dapat terulang dimoment pemilu legislatif. Masih tingginya angka golput akan mempengaruhi proses negara demokrasi yang menjadikan masyarakat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Semakin tinggi jumlah masyarakat yang apatis dengan aktifitas berdemokrasi makan semakin memberikan kekuasaan yang bisa jadi absolute pada eksekutif, yudikatif, legislative yang hal ini mendorong kemungkinan penyelewengan kekuasaan yang tinggi pula karena tidak ada partisipasi masyarakat dan perimbangan kekuasaan oleh masyarakat di pasca pemilu.

Penting kiranya untuk membangun pemahaman bersama, sehingga caleg, masyarakat maupun penyelenggara pemilu agar lebih bijak memaknai proses pemilu sebagai upaya untuk melahirkan pemimpin berintegritas yang mampu mengartikulasikan dan mewujudkan kepentingan serta mampu memberikan perubahan positif pada kehidupan bersama, bukan untuk melahirkan PEMIMPIN BERMENTAL KARDUS, yakni pemimpin yang lemah dan mudah lapuk dalam menampung, memperjuangkan, dan mengemban amanah masyarakat. Dengan asa ingin membangun persepsi bersama masyarakat kota Malang tentang pentingnya pemilu legislative yang beradab, maka Masyarakat bersama MCW melakukan kampanye untuk mendorong pemilu legislatif yang bermartabat dengan menyampaikan pesan;

1.Mengajak masyarakat berpartisipasi untuk datang memberikan hak suaranya di TPS.

2.Mengajak masyarakat untuk memilih calon secara rasional, dan menolak segala bentuk politik uang yang di berikan oleh caleg.

 

3.Mengajak masyarakat berpartisipasi untuk mau melakukan pemantauan independent dan melaporkan pelanggaran dalam pemilu ke penyelenggara atau melapor ke MCW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.