Beranda Suara Rakyat Pramoedya Melawan Korupsi

Pramoedya Melawan Korupsi

313
0
BERBAGI

Negara kita saat ini tengah dilanda gelombang korupsi yang belum  terlihat akan mereda. Korupsi tumbuh bak jamur di musim hujan. Merasuki setiap sendi berbangsa dan bernegara, mulai dari skala desa sampai skala nasional. Dari uang receh sampai tumpukan uang dollar. Korupsi menjadi momok yang merusak pilar-pilar kebangsaan. Meratakan kewibawaan pemerintah pada titik nadir kepercayaan publik.

Belum selesai penuntasan sebuah kasus korupsi, telah menyusul puluhan kasus-kasus baru dibelakangnya. Akibatnya, semakin sesak etalase kasus-kasus korupsi di Indonesia dengan nama-nama koruptor yang selalu bertambah dalam hitungan hari. Gayus Tambunan, Andi Mallarangeng, Nazaruddin, dan Akil Mochtar, Surya Darma Ali, Ratu Atut, Jero Wacik, adalah segelintir contoh.

Ironisnya, metamorfosa korupsi yang sedemikian banal nan canggih ini, belum mampu diimbangi oleh gerakan anti korupsi. Baik yang dilakukan oleh institusi penegak hukum, maupun gerakan masyarakat sipil. Korupsi menjelma menjadi kejahatan terorganisir yang sulit disentuh. Karenanya, kita butuh pijakan juga referensi alternatif untuk melakukan proses transformasi sosial kearah yang lebih bermartabat. Dan sastra adalah salah satunya. Sastra akan menjadai satu alat yang turut menyemai bibit-bibit kritisisme publik dalam agenda pemberantasan korupsi.

Tentu, ini bukan sebuah igauan yang tidak memiliki basis argumentasi yang jelas. Bukankah, sastra dalam lempengan sejarah telah menorehkan pahatan-pahatan penting dalam perubahan masyarakat. Perubahan dalam berbangsa dan bernegara, termasuk dimensi korupsinya. Kita bisa melihat, bagaimana Uni Soviet  misalnya, dibesarkan oleh tangan-tangan Leo Tolstoy, Marxim Gorky, dan juga Boris Pasternak. Perancis dengan Albert Camus dan Jean-Paul Satre.India dengan Rabindranath Tagore-nya. Pun, Indonesia dengan nama-nama macam Sutan Takdir Alisyahbana, Wiji Thukul, serta Pramoedya Ananta Toer. Tentunya, masih berderet nama-nama lainnya yang bisa kita jadikan kaca benggala untuk melihat posisi sastra dalam perubahan sosial.

Warisan Bung Pram Tentang Korupsi

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, telah menjadi ikon tersendiri dalam perbincangan sastra dan perubahan sosial. Ia menorehkan lembaran khusus dalam sejarah bangsa yang memotret peran karya sastra dalam sebuah arena perjuangan. Karya-karyanya, yang sering ia sebut sebagai “anak rohani”-nya, telah membawa spirit realisme sosial yang mencoba menampilkan realitas sosial guna memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Bagi Pram, sastra merupakan alat perjuangan yang tidak boleh cengeng, apalagi picisan. Karena pilihan bersastranya yang seperti itulah, ia harus keluar masuk tempat pengasingan dan penjara. Nasib karyanya tak jauh lebih baik. Terutama saat Orba, karyanya dilarang dan bahkan beberapa dibumi-hanguskan. Namun, semakin kesastrawanannya ditawan, semakin ia meledak. Karyanya tak dapat dibendung. Mengalir deras sampai pada tangan anak semua bangsa.

Detik ini, ditengah duka komunal yang menggantangkan awan hitam akibat dosa korupsi. Meski jasadnya ada di lahat, karya Bung Pram masih bernafas bernas melawan. Pada tahun 1957 silam, ia telah melahirkan novel yang bernama “Korupsi.” Novel itu menjadi warisan yang sangat relevan ketika kita hadapkan pada alam birokrasi dan parlemen yang masih sakit. Birokrasi yang dihuni oleh para birokrat koruptif dan manipulatif. Parlemen yang diduduki politisi karbitan yang menjadikan uang sebagai basis politiknya.

Dalam novel “Korupsi,” Pram membawa kita untuk berdialektika dan tersadar akan dosa yang timbul akibat korupsi. Melalui tokoh Bakir, Bung Pram memberikan contoh bagaimana seseorang yang awalnya memiliki keteguhan dan kesahajaan sikap. Ternyata juga terseret masuk kedalam kubangan korupsi. Tuntutan ekonomi dan budaya birokrasi saat itu, membuat Bakir lupa diri. Sebagai seorang kepala kantor di sebuah instansi pemerintah, ia melakukan “perselingkuhan” dengan para taoke dalam pengadaan barang. Bakir tersesat dalam jaring-jaring korupsi.

Nasehat dan tangis sang istri tidak juga mampu menyadarkan Bakir untuk tidak melakukan korupsi. Apalagi hanya sindiran-sindiran yang disampaikan oleh anak buahnya, Sirad misalnya. Bakir memilih menelantarkan istri dan empat orang anaknya untuk memulai hidup baru dengan istri sirinya, Sutijah. Sutijah yang glamor dan mendukung korupsi suaminya.

Bakir telah tersesat jauh. Ia menjadi orang kaya baru yang melengkapi hari-harinya dengan mobil mewah, seks, dan minuman. Namun, tetap saja ia tidak tenang. Korupsi yang ia lakukan telah menjadi hantu yang menerorkan ketakutan serta kegelisahan siang dan malam. Sampai kemudian ketakutan itu menjadi kenyataan. Kemewahan yang ia bangun runtuh bersama tubuh yang tergolek dibalik jeruji penjara. Mimpi untuk dapat hidup nyaman disisa umur, pupus dijepit dinding penjara yang pengap. Bakir tidak dapat mengangkat muka. Ia tenggelam dalam penyesalan dan rasa malu terhadap istri dan anaknya. Pun kepada semua orang yang pernah mengenalnya. Ia malu pada status barunya. Bakir sang koruptor.

Kisah yang dirangkai Bung Pram tentang korupsi tersebut, masih juga berulang sampai hari ini. Bahkan, korupsi telah bermetamorfosa sedemikian liar, canggih dan rapi. Para Koruptor tidak ada yang menampakkan malu seperti yang digambarkan tokoh Bakir. Mereka cengengesan dengan statusnya sebagai Koruptor. Para koruptor juga semakin canggih dan rapi dalam melancarkan aksinya.

Lahirnya undang-undang tindak pidana korupsi dan pencucian uang, tetap belum mampu menekan ruang gerak para koruptor. Mereka masih juga leluasa melakukan korupsi. Gedung dimakan. Penegak hukum dikondisikan. Pajak dikantongi. Penegak hukum disiasati. Karena itulah, gerakan anti-korupsi tidak hanya kita percayakan normatif begitu saja pada institusi penegak hukum. Namun, harus ada gerakan-gerakan politik dan kebudayaan untuk menekan laju korupsi yang tengah dan akan terjadi.

Apa yang dilakukan Bung Pram dalam menelorkan novel “Korupsi” bisa dijadikan referensi untuk menjadikan gerakan anti-korupsi sebagai gerakan kebudayaan. Saya kira, spirit seperti inilah yang juga melandasi lahirnya antologi puisi “Puisi Menolak Korupsi” yang dikoordinatori oleh Sosiawan Leak. Pram telah mengajarkan bagaimana kita harus melawan. Sehormat hormatnya.

Terakhir, saya coba hadirkan kata-kata Pram agar sedikit banyak memberi suplemen atas gerakan bersama dalam agenda pemberantasan korupsi. “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, h. 436)”. Termasuk membikin kenyataan pada bangsa-negara tanpa korupsi.

Oleh: Hayyik ALI MM. Wakil Koordinator Eksternal MCW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.