Beranda Suara Rakyat Proyek Disneyization Kota Batu

Proyek Disneyization Kota Batu

318
0
BERBAGI

Di penghujung Barat Kota Malang terdapat sebuah kota kecil bernama Batu. Kota yang terkenal karena panoramanya yang indah. Hamparan sawah menghijau, sumber-sumber mata air yang jernih, sungai-sungai-sungai yang meliuk-liuk serta barisan pegunungan dan perbukitan yang memagari kota ini menjadikan Kota Batu begitu elok dan layak menjadi destinasi pariwisata dan tempat menenangkan pikiran.

Karena keindahan alamnya yang memukau itu, pada masa kolonial, orang-orang Belanda menjuluki Kota Batu sebagai De Kleine Switzerland, Swiss Kecil di Pulau Jawa. Sama dengan Kota Batu, Swiss adalah Negara kecil di Eropa yang mempunyai keindahan alam memukau dan kesuburan tanah.

Tanah kota Batu yang subur menjadikan banyak tumbuhan tropis tumbuh dengan mudah. Pada masanya, Kota Batu merupakan sentra perkebunan apel paling tersohor di Jawa Timur. Apel Manalagi, yang bibitnya di bawah oleh orang Belanda, merupakan jenis apel Khas Batu yang manis lagi segar. Hamparan kebun apel yang luas membawa trade mark Kota Batu sebagai Kota Apel. Belum afdhol rasanya jika ke Batu tidak menikmati lezatnya apel, terutama apel manalagi.

Di samping apel, Kota Batu adalah juga menjadi sentra segala jenis bunga tropis dan holtikultura. Di Kota ini para pelancong akan dengan mudah menemukan bunga-bunga yang indah dan sayur-sayuran segar.

Pendek kata; Keindahan, ketenangan, dan kesejukan merupakan cita rasa khas Kota Batu yang menjadikan kota ini sebagai destinasi peristirahatan dan wisata. Pada masa kolonial, Kota Batu selalu ramai dikunjungi oleh para pelancong, terutama di hari Sabtu dan Minggu. Selecta merupakan salah-satu tempat yang sering menjadi jujugan.

Di luar kecantikan alamnya, Kota Batu juga dikenal dengan penduduknya yang berwatak guyub-rukun dan ramah. Orang-orang Batu sangat kuat ikatan persaudaraannya dan setia dengan jalan damai dalam menyelesaikan setiap masalah. Di Kota inilah mozaik perdamaian terpatri dalam kehidupan keseharian penduduknya. Tak pernah ada, dalam sejarah kota Batu, konflik berlarut-larut yang menghadirkan dendam kesumat. Selalu ada pintu maaf dan penyelesaian secara damai di Kota Batu.

Keindahan alam dan keramahan penduduk merupakan perpaduan unik Kota Batu yang selalu akan dikenang oleh siapapun yang berkunjung ke Kota ini. Selalu ada kerinduan untuk kembali bagi mereka yang pernah tinggal atau berkunjung di Kota Batu. Adalah wajar jika – sampai hari ini – masih banyak orang Belanda yang datang ke Kota Batu sekadar bernostalgia atau karena mendengar cerita dari nenek moyang mereka.

De Kleine Switzerland yang Berubah

Namun, penetrasi kapital ekonomi telah mengubah wajah Kota Batu sedemikian rupa. Pelan tapi pasti – di masa Orde Baru – kecantikan alam kota ini mulai ternoda. Tanah-tanah yang subur dan menjadi modal utama para petani beralih fungsi menjadi vila, perumahan orang kota, dan hotel. Setahap demi setahap De Klein Swizerland berubah.

Dan, tereduksinya keindahan alam Kota Batu semakin nyata dan cepat ketika kota ini membawa trade mark “Kota Wisata Batu” atau yang disingkat menjadi KWB. Kota Batu bergerak cepat mengubah jati-dirinya.

Inner beauty Kota Batu sebagai De Klein Swizerland bertransformasi menjadi The Little Singapore. Kota Batu bukan lagi Swiss kecil di Pulau Jawa, tetapi berubah menjadi Singapura kecil di Pulau Jawa. Wisata alam berbasis pertanian yang menjadi ciri khas Kota Batu diubah menjadi wisata artificial berbasis Disneyization, sebuah model wisata yang tak pernah dikenal oleh orang Batu sebelumnya. Proyek Disneyization ini bekerja sangat massif pada rezim “Kota Wisata Batu”.

Disneyization merujuk pada gagasan sosiolog Allan Bryman tentang proyek kapitalisme yang mengintegrasikan wisata kuliner dengan wisata buatan (artificial) seperti pada taman hiburan Disneyland. Walt Disney merupakan ikon dari industri hiburan paling terkemuka di AS, yang kemudian bertransformasi sedemikian rupa menjadi jejaring bisnis wisata bernama Disney Land Park di banyak Negara.

Di Kota Batu, proyek Disneyization ini termanifestasi dalam berbagai proyek wisata artifisial seperti Taman Satwa, Museum Angkut, Jatim Park, Eco Green Park, atau ASEAN Culture Park (rencana akan dibangun). Bahkan, alun-alun Kota Batu pun didesain bermadzab Disneyization.

Menurut Allan Brymann, ada empat hal yang menjadi ciri dari Disneyization, yaitu : 1) theming, merujuk pada “menjual branding”, untuk konteks Kota Batu termanifestasi dalam slogan Kota Wisata Batu (KWB) atau Shinning Batu. Di samping itu juga merujuk pada spot-spot ruang yang mempunyai tema-tema khusus. 2)dedifferentiation of consumption merujuk pada berbagai macam tawaran konsumsi tetapi saling terintegrasi 3) merchandising, merujuk pada penjualan berbagai macam pernak-pernik seperti kaos, gantungan kunci, atau hal-hal yang bisa memperkuat theming, dan 4) emotional labour, yakni membutuhkan tenaga kerja yang bisa menghidupkan suasana keceriaan.

Melaui proyek Disneyization itu, Kota Batu dipaksa untuk berubah menjadi Kota Wisata buatan (artificial), wisata alam hanya menjadi setting bukan pusat perhatian utama. Hal ini berimplikasi terjadinya perubahan kebudayaan orang-orang Batu, dari yang sebelumnya menjadikan pertanian sebagai ujung tombak perekonomian diubah bekerja dalam sector-sektor jasa pariwisata artificial itu.

Dalam banyak kasus, terjadi banyak shock culture. Seorang petani, misalnya, yang tanahnya dijual untuk sebuah proyek Disneyization, ia terpaksa bekerja menjadi tukang ojek karena tak mempunyai ketrampilan lain selain bertani.

Di luar itu, Proyek Disneyization ini juga mengubah watak Kota Batu yang ramah dan guyub menjadi pemarah dan semakin individualis. Kasus demosntrasi besar-besaran masyarakat sekitar Gemulo menunjukkan bahwa masyarakat Kota Batu mulai mempunyai watak pemarah. Padahal, di masa lalu, demo besar-besaran bukanlah tipikal orang Batu.

Proyek Disneyization telah mengubah wajah Kota Batu, bukan lagi Swiss kecil di Pulau jawa, bukan lagi De Kleine Switzerland. Bahkan, buah apel lambat-laun mulai menghilang. Selamat Ulang Tahun Kota Batu yang ke-13. Dirgahayu.

Oleh: Haris El Mahdi (Sosiolog/Warga Kota Batu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.