Beranda Suara Rakyat Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Kaum Tertindas*

Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Kaum Tertindas*

356
0
BERBAGI
sumber: www.timur-angin.com
sumber: www.timur-angin.com

Oleh abdurrachman sofyan*

Manusia adalah makhluk yang mampu membangun kedaulatan kognitif secara mandiri dalam diri pribadinya melalui pola pola kehidupan yang ada, dengan lambat laun pola kehidupan tersebut menjadi sebuah sistem pengetahuan sementara dan selama tidak berkembang pengetahuan kognitif manusia maka besar kemungkinan manusia akan hidup dalam kepercayaan yang ada pada pengetahuan sementaranya, itu artinya pengetahuan manusia melalui pendidikan dari alam akan berjalan dengan sendirinya secara alamiah dan otomatis, jelasnya bahwa pengetahuan manusia tidak memperdulikan tujuan dan sasaran saran yang sejati.

Memasuki ranah pengetahuan manusia secara mendasar adalah sama halnya mencari tahu tentang darimana asal mula potensi pengetahuan manusia itu berasal. Manusia secara potensial tidak akan mampu berkembang tanpa adanya proses pendidikan, terlepas dari proses pendidikan dengan ideologi konservatif atau liberal seperti yang dikonsepsikan William O’Neil dan Giroux yang mana secara prinsip kedua ideologi ini bertentangan secara penerapan dan tujuan. Maka untuk memecahkan kebuntuan dalam stagnasi proses pendidikan hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu hakikat pendidikan serta fungsi dan perannya.

Pendidikan merupakan bagian dari sebuah fenomena antropologis dan sosiologis yang usianya hampir setua dengan sejarah perjalanan hidup manusia, paulo freire memahaminya sebagai upaya manusia mengembalikan hak hak manusia kepada asal nya melalui kerangka berfikir yang disebut kesadaran kritis.

Sementara Machiavelli memahami pendidikan dalam kerangka proses penyempurnaan manusia secara terus menerus, baginya pendidikan dapat melengkapi ketidak sempurnaan dalam kodrat alamiah manusia (Doni Kusuma, 2007). Murtadha muthahhari menganggap bahwa menghidupkan potensi potensi yang ada dalam diri manusia secara natural dan tercerahkan adalah pendidikan karena itulah murtadha muthahhari menganggap bahwa pendidikan hanya layak bagi manusia saja (muthahhari, 2011). Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Meruntutkan makna pendidikan dalam skala ontologi melahirkan makna yang beragam dan tergantung pada konteks yang terjadi, namun yang lebih urgen dalam memaknai pendidikan yang radikal adalah menajadikannya sebagai sebuah mesin penggerak menuju perubahan nyata, yakni perubahan yang berdampak positif secara sosiologis pada masyarakat luas.

Secara fungsional maka pendidikan memiliki kekuatan perubahan dari ketertindasan menuju kemerdekaan, dari kehinaan menuju kehidupan yang bermartabat. Pendidikan memainkan peran penting yang erat kaitannya dengan kebudayaan dalam berbangsa, bernegara serta berdemokrasi, pendidikan yang memfokuskan diri pada aspek kognitif hanya akan melahirkan manusia manusia profesional bukan manusia intelektual seperti yang didefinisikan edward said dan antonio gramsci. Sementara yang terjadi dewasa ini adalah yang menjadi katalisator dari suksenya sebuah kependidikan adalah seberapa banyak seorang pelajar yang telah menyelesaikan studinya menghasilkan uang sebagai timbal balik dari sebuah proses pendidikan yang panjang.

Jika kita perhatikan secara eksplisit kedalam kehidupan sosial budaya masyarakat, sejatinya fenomena semacam yang tersebut diatas kerap terjadi. Dalam skala makro agaknya relavan lah apa yang telah di tafsirkan oleh Mohandas K. Gandhi dalam buku yudi latif yang mengisyaratkan penyakit masyarakat dewasa ini : politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, perniagaan tanpa moralitas, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas, peribadatan tanpa pengorbanan.

Jelas pendidikan yang terlahir dari perut plutokrasi dan aristokrasi tak ubahnya menjadi bom waktu yang tinggal menunggu waktu meledaknya. Karena dalam pendidikan telah tertanam sebuah paradigma politik kelas (ploretar-borjuis), dan yang menjadi korban pembodohan adalah jelas kaum lemah tak ber-uang, miskin. Proyek pembiaran kebodohan pada kaum lemah dan terlemahkan adalah proses asimilasi kemanusiaan, dan diskriminasi dalam hak hak untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi.

Negara indonesia baru saja merasa tercerahkan oleh diterapkannya kurikulum 2013, yang katanya adalah proses panjang tangan dari kurikulum KTSP. Dengan segala macam rasionalisasi dalam penerapannya. Datangnya kurikulum baru ini tidaklah akan menjadi angin segar bagi segenap rakyat indonesia, terlebih mereka yang berada dipelosok pelosok negeri selama pendidikan beserta prosesnya syarat dengan unsur plutokrasi dan aristokrasi. Jika demikian memang adanya maka pendidikan indonesia hanya akan melahirkan kandidat firaun muda, atau sebagai qorun muda .

Problematika semacam ini sejatinya pernah dirasakan oleh bapak pendidikan kritis paulo freire. Banyak diantara pendidik ataupun akademisi mempelajari arah dal pola pemikiran beliau, namun hasilnya hanya terbatasi pada jargon jargon paulo freire saja seperti pendidikan adalah proses pembebasan. Pendidikan adalah proses pembangkitan kesadaran kritis. Radikalisasi makna dan visi pendidikan bagi kaum kaum tertindas tidak akan terjawab tanpa melanjutkan sebuah rumusan bagaimana pelaksanaannya serta prosesnya. Pendidikan yang bervisi revolusioner adalah pendidikan yang membebaskan dan menyadarkan status quo dari setiap individu dan masyarakat. Politisasi dalam dunia pendidikan menjadikan pendidikan hanya berjalan satu arah yakni dari pendidik sebagai pentransfer pengetahuan kepada peserta didik sebagai penerima pengetahuan. Pola pola semacam ini bagi freire adalah pola yang kaku cendrung pada pembodohan dan dehumanisasi, karena hak untuk kritis peserta didik dikalahkan oleh sistem yang berhadapan dengan nilai krtis tersebut.

Dengan langkah radikalisasi penyadaran kelas dan posisi sebagai mesyarakat, harapannya pendidikan tidak lagi menjadi alat dominasi kaum mayoritas ataupun ideologi mayority. Namun pendidikan menjadi tanggung jawab bersama yang nantinya menjadikan sebuah peluru perubahan dan melesat keras menuju kesejahteraan.

Daftar rujukan
Dr. Mansour Fakih. Jalan lain manifesto intelektual organik. Pustaka pelajar, jogja 2011
Dr. Paulo freire . pendidikan sebagai proses. Pustaka pelajar, jogja 2008
Dr. Yudi latif. Menyemai karakter bangsa, budaya kebangkitan berbasis kesastraan. Kompas. Jakarta 2009
*di sampaikan pada orasi ilmiah di diskusi intrans institute.
*kepala Divisi Riset dan Kajian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.