Beranda Suara Rakyat Opini Santri dan Perang Melawan Korupsi : Sebuah Refleksi

Santri dan Perang Melawan Korupsi : Sebuah Refleksi

143
0
BERBAGI
Sumber Gambar : ayoSemarang.com

Momentum hari santri yang bertepatan pada 22 Oktober, merupakan salah satu tanda keberadaan santri diakui di Indonesia. Seluruh santri di Indonesia menyambut dengan penuh gembira. Oleh karena itu, banyak sekali jargon yang beredar di media sosial “Bangga Menjadi Santri”. 

Sejauh ini apakah kita pernah berpikir mengapa Indonesia memberikan hari khusus untuk hari santri? Bukankah tanpa adanya hari tersebut kami tetap berstatus santri? Pertanyaan itulah yang menjadi refleksi kembali apa makna sesungguhnya hari santri di Indonesia. 

Sejarah Jihad Santri Tempo Dulu 

Sejarah perjuangan KH. Hasyim Asy’ari merupakan cikal bakal dari lahirnya hari santri. Tepat pada 22 Oktober 1945, beliau menyuarakan perintah kepada seluruh umat islam melakukan perlawanan kepada pasukan kolonial yang ingin merebut Indonesia atau yang disebut dengan Resolusi Jihad. 

Perlawanan yang dipimpin oleh kyai tersebutlah, membawa santri untuk melakukan perlawanan kepada sekutu. Saat itu pula, orasi yang disampaikanpun penuh amarah akan kedholiman. Ia mengatakan “Membela tanah air dari penjajah hukumnya Fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap orang”. Perkataan tersebutlah menambah keyakinan santri untuk melawan. Menyerang Markas 49 Mahratta merupakan bentuk perlawanan yang konkret. Hingga, menewaskan seorang Jendral Mallaby. 

Kisah lain, datang dari tokoh pahlawanan nasional yakni Pangeran Diponogoro yang memiliki nama asli Raden Mas Antawirya. Ia merupakan seorang santri. Peter Cerey menyebutkan bahwa “semenjak kecil pangeran diponegoro mendalami ajaran islam serta hidup akrab dengan dunia aktivitas islam di Jawa (Pesantren)”. 

Kehidupan Pesantrenlah yang menghantarkan Raden Mas Antawirya untuk melakukan perlawanan. Melawan Pemerintah Belanda merupakan salah satu ajaran islam untuk melawan kedholiman di tanah Jawa. Sehingga, lahirlah Perang Jawa yang dipimpin olehnya.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu bentuk perlawanan untuk mengusir Penjajah Negeri Kincir Angin dari Tanah Jawa. Pasukan perang tersebut didominasi oleh kaum santri. Namun, fenomena tersebut tidak berbuah kemenangan sebab pangeran diponegoro berhasil tertangkap oleh sekutu. 

Peran Santri Hari ini

Sejarah selalu mengajarkan tentang masa lalu dan hidup di masa kini. Kiranya, itulah yang harus dipelajari dalam momentum bersejarah khususnya santri. Semangat memperjuangkan cinta tanah air yang dibalut dengan nilai keagamaan merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh seorang santri. Lantas bagaimana semangat itu terus terjaga? Bukahkah hari ini tidak ada lagi penjajah yang hendak merebut ibu peritiwi? Kita memang tidak lagi melawan penjajah, namun hari ini kita sedang melawan negeri kita sendiri. Bagaiman bisa ?

Contohnya adalah Korupsi yang merupakan kejahatan yang luar biasa. Korupsi bisa menimbulkan mudarat dalam jangka panjang. Kemiskinan, ketidakadilan, perampasan atas hak masyarakat, kerugian negara  merupakan buah dari tindak pidana korupsi. Ditambah dengan niatan segelintir orang yang ingin memperkaya dirinya sendiri. 

2020  merupakan tahun yang berat bagi pemberantasan korupsi. Salah satu alasannya adalah Indonesia menganggap bahwa telah dianugrahi Presiden dan wakil presiden yang baik hati dan taat beragama. Padahal realitanya tidak sesederhana itu. Terbukti ketika presiden dan wakil presiden sama-sama bersemangat untuk merevisi undang – undang KPK. Hal ini cenderung mengabaikan agenda reformasi yang salah satunya memuat semangat pemberantasan korupsi.  

Fenomena tersebut manjadi refleksi bagi santri, bagaimana hendak menjawab persoalan tersebut. Santri yang memahami betul akan konsep islam mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Islam yang selalu damai dan berpihak kepada kaum mustadh’afin.

Keperbihakan santrilah yang menekan kejahatan yang luar biasa tersebut. Sebagaimana sholafussholeh telah mengajarkan atas keberpihakan itu sendiri. 

Misalnya, Musa yang merupakan nabi yang telah membebaskan Bani Israel dari Penindasan Fir’aun. Selain itu, konsep kaum mustadh’afin pun termaktub dalam Al – Qur’an, kira – kira Allah berfiman “Belalah mereka yang dilemahkan, karena pembelaanmu terhadap siapapun yang dilemahkan merupakan bagian keimananmu”.

Masalah yang kerap terjadi dikalangan santri adalah mereka lupa bahwa mereka harus melakukan keberpihakan itu. Pada akhirnya, hanya berjibaku dengan kitab kuning, sholat lima waktu beserta sunahnya, puasa senin dan kamis. Ketika santri hanya berkutat pada aktivitas itu saja. Secara tidak langsung mereka melupakan sejarah yang dibuat olehnya di masa lalu dan kabar yang dibenarkan dalam Al-Qur’an. Maka dari itu, mari mengembalikan fitrah sesungguhnya tentang peran santri. 

Masih ingatkah pada sejarah santri turun ke jalan yang dipimpin seorang Kyai asal Sitobondo alm KH. Ach. Fawaid As’ad. Beliau melakukan blokade jalur pantura Sitobondo – Banyuwangi dengan para santrinya atas kasus korupsi yang dilakukan oleh Bupati Sitobondo senilai 45,750 miliar. Narasi itulah yang mengindahkan islam bahwa jihad islam bukan saja mengislamkan non islam menjadi islam. Namun, melawan korupsi bagian dari jihad islam. Hal ini penting dikampanyekan oleh para santri bahwa bagi kalangan yang beranggapan  bahwa perang melawan korupsi ini persoalan sukuler yang tidak ada hubungannya dengan spirit agama. Barangkali itu tidak benar. 

Penting bagi santri untuk memotong mata rantai korupsi. Sebab, darinya semua kedholiman bermuara hingga melahirkan kaum mustadh’afin. Sebagaimana yang telah dijelaskan di muka bahwa buah dari korupsi adalah penderitaan dalam jangka panjang. 

Gerakan Santri dan Jihad Melawan Korupsi 

Santri dan gerakan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Artinya, santri harus terlibat pada gerakan anti korupsi. Ini bukanlah persoalan yang asing bagi santri terlihat dari sejarah yang ada. 

Gerakan santri yang akan selalu dirindukan akan perlawanan terhadap kemungkaran yang terjadi di negeri ini. Momentum hari santri hendaknya dijadikan gerakan kolektif untuk mendobrak sistem ekonomi, politik, pendidikan, dan hukum yang korup. Selain itu, santri pun bisa memastikan pengelolaan negara ini berada pada jalan yang benar (shirothol mustaqim). Serta, santri harus memastikan bahwa uang APBN dan APBD yang diberasal dari umat digunakan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Itulah Khittah kita bernegara.

Korupsi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap khittah bernegara. Santri yang memiliki kesadaran akan itu merupakan santri yang progresif dan mengikuti Sunah Rasulnya. Sebab, Rasul Nabina Muhammmad SAW diutus di bumi ini adalah menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran (amar ma’ruf nahi mungkar). Oleh sebab itu, korupsi diposisikan sebagai musuh bersama, karena buahnya akan dirasakan seluruh umat manusia bahkan kepada hewan dan tumbuhan pun juga terdampak imbasnya. 

Santri adalah tangan kanan masyarakat yang selalu membawa perubahan dengan kedamaian dan kesejahteraan. Memaksimalkan gerakan santri untuk memberantas korupsi adalah cara mengembalikan fungsi santri sesuai khittahnya. Menolak Omnibus Law juga merupakan contoh konkrit gerakan santri hari ini.

Contoh lain, pada momentum pilkada yang hendak dilakukan beberapa bulan mendatang. Santri dapat memberikan peran dalam momentum tersebut. Setidaknya dua peran yang dapat dilakukan pertama, menolak pilkada. Hal ini didasarkan atas fatwa dari salah satu organisasi masyarakat yang memiliki pengaruh di Indonesia yakni Nahdatul Ulama’. NU beranggapan bahwa pilkada pada tahun ini hendaknya tidak dilaksankan dan lebih mengutamakan kelangsungan hidup mengingat penularan virus corona telah mencapai tingkat darurat. Selain itu, meminta pemerintah untuk mengalokasikan anggaran pilkada bagi penangan virus tersebut.

Jika pemerintah tetap melaksanakan pilkada. Simpulnya, bahwa wajah pemerintahan kita memang tak berdasarkan atas rakyat karena mengabaikan hidup orang banyak. Akankah kita, berhenti dalam menekan virus korupsi. Maka, jawaban kami sebagai santri adalah “tidak”. Bukankah, dalam islam memiliki konsep istiqomah yang artinya konsisten dalam melakukan sesuatu. Kira-kira, begini kata para Ulama Tashawwuf  “Istoqomah leboh utama ketimbang seribu karamah”. 

Oleh karena itu, kami sebagai santri memilih untuk  mengawasi jalannya pilkada agar tidak ada perilaku yang korup. Jangan biarkan kongsi jahat antara elit politik dan pebisnis merajalela di Pilkada tahun ini.

Sebagaimana dawuh alm Kh. Maimoen Zubair “Korupsi itu pelakukanya orang yang dekat dengan kekuasaan dan memiliki jabatan di sebuah pemerintahan, baik jabatan tersebut di tingkat pusat maupun daerah. Mereka adalah orang – orang mendapat amanah atau kepercayaannya diselewengkan dan mereka memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok”.  

Semangat-semangat ini yang seharusnya selalu ada ditangan santri. Pembebasan yang dilakukan oleh santri untuk menekan tindakan korupsi adalah jalan tengah atas kebuntuan gerakan agama yang mengatakan ini persoalan sekuler. Ditangan santri yang progresiflah upaya pembebasan korupsi akan terus dirawat. Mereka akan mentransfromasikan nilai moral ke dalam nilai sosial. Sebab dalam menekan penyakit korupsi gerakan santri perlu melakukan berjejaringan pada semua elemen. Kami menyakini dengan hal ini bisa memberikan solusi atas penyakit korup ini.

Penulis,

Miri Pariyas (Badan Pekerja MCW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.