Beranda Suara Rakyat Opini Sarinah dalam Simbol Gerakan Perempuan

Sarinah dalam Simbol Gerakan Perempuan

118
0
BERBAGI
Sumber gambar: ANRI

“Jika kalau tidak dengan mereka (perempuan), kemenangan tidak mungkin kita capai….”

Vladimir Lenin

Itulah satu diantara motto Soekarno pada kitab yang berjudul “Sarinah : Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia”. Diulas dengan begitu apik yang dalam sinopsisinya dikatakan sebuah bahan pengajaran Bung Karno pada kami (perempuan). Kalau bisa dikatakan pula, buku itu adalah ikhtiar beliau untuk mendorong gerakan perempuan dalam memperjuangkan persamaan hak lelaki dan perempuan serta melawan penindasan yang dilakukan oleh kapitalisme.

Sebagaimana juga yang diimpikan oleh Feminisme untuk 99% (salah satu aliran yang baru-baru ini seksi dibicarakan) yang menyerukan bahwa semua gerakan radikal untuk bergabung dalam pemberontakan bersama gerakan antikapitalis. Mereka dan Bung Karno menyadari bahwa dasar dari penindasan perempuan dimulai dari hak kepemilikan pribadi yang begitu serakah dan brutal atau kalau kita ingin bilang adalah Sistem Kapitalisme .

Hak Kepemilikan Pribadi dan Penindasan Perempuan

Dulu kita memimpin, dulu kita mengontrol, dulu kita yang pula mengantur segala hal. Sungguh, elok  didengar, mereka sebut sebagai sistem Matriarchat (Hukum Peribuan). Hukum dimana segala hal yang mengatur adalah seseorang perempuan. Bahkan, perempuan memiliki julukan sebagai produsen sosial.

Zaman primitif kala itu, perempuan menjadi ibu peradaban. Ia menciptakan hal baru yang melampaui zaman. Tempo dulu diceritakan bahwa ketika lelaki sedang berburu binatang buas, perempuan mengambil posisi yang amat cerdik yakni bercocok tanam. Dari pada itu yang disebut sebagai produsen yang berharga telah menciptakan itu.

Pujian itupun hadir dalam tulisan bung karno, “Perempuan adalah berjasa kepada kemanusiaan sebagai makhluk yang pertama-tama mendapatkan ilmu untuk bercocok tanam, yang sampai sekarang menjadi tiang penghidupan manusia di muka bumi”. Beberapa artikel pernah menyebutkan bahwa perempuan juga salah satu arsitek pertama kali yang memiliki inisiatif dalam pembuatan rumah.

Kalau boleh mengklaim bisa jadi perempuan adalah ibu perdaban. Ingatan ini patut untuk diingat bahwa perempuan kala itu memiliki peran yang begitu besar. Peran besar dalam evolusi masyarakat. Artinya, keelokan dan keindahan benar-benar tercermin dari ketajaman berpikir seseorang perempuan dalam menciptakan perubahan yang melampaui masa. Bisa jadi apa yang dikatakan Charles Fourie benar adanya, “Tinggi rendahnya tingkat kemajuan suatu masyarakat, adalah ditetapkan oleh tingkat rendahnya kedudukan perempuan di masyarakat itu”.

Perkembangan manusia tak bisa dipungkiri. Pada akhirnya lelaki maupun perempuan meninggalkan aktivitas yang dulunya, sering dilakukan lambat laun luntur lalu menghilang tertelan masa. Satu diantaranya lelaki mencipatakan sistem pertenakan untuk bertahan hidup sebagai ganti dari sistem pemburuan. Mereka menyadari bahwa proses pertenakan membutuhkan rumput untuk makan hewannya. Maka, secara tidak langsung yang memilih untuk bertani lalu, pada saat  itu mulailah penindasan perempuan terjadi.

Lambat laun, lelaki menyerukan untuk perempuan diam di rumah agar posisi menjadi petani biar lelaki yang melakukannya. Amat disayangkan sejak itu kata “produsen” yang disematkan kepada perempuan abislah dan tidak tersisa apapun. Pertumbuhan pertenakan semakin hari semakin tumbuh sang pemiliki menyadiri bahwa sistem itu membutuhkan tenaga kerja agar memudahkan untuk bertenak. Ketika membutuhkan tenaga kerja maka, sesungghunya membutuhkan manusia untuk mengerjakan produksi itu.

Mereka mengatakan bahwa untuk mengamankan kesemuanya perlu mengantikan sistem matriarchat ke patriarchat. Dimana, sistem matriarchat satu orang perempuan boleh menikah dengan banyak lelaki sedangkan, dalam sistem yang mengantikan itu kebalikannya. Tidak ada yang menyangkal hukum patriarchat, bahkan alampun menyetujuinya. Tujuannya adalah mengamankan hak kepemilikan pribadinya agar ahli waris nya menuruskan bukan isi hukum matriarchat yang pernah ada. Bahwa kesemuan common property bukan private property. Engels mengatakan perpindahan dari hukum peribuan kepada hukum perbapaan itulah salah satu kekalahan perempuan yang paling hebat di dalam sejarah kemanusian”

Lahirlah konsep famili yang mengaitkan dua gender itu harus saling berhubungan. Asal muasal famili dari kata latin famulus artinya hamba, pelayan, budak. Kata budak itu mencorang kepada perempuan . Tidak ada pilihan lain, selain bekerja di rumah. Pertanian yang dulu dikontrol, kantor-kantor yang dulu diisi tidak ada lagi di perempuan, semua dirampas. Mereka dibeli lalu dijadikan budak. Kata bebel “Perempuan adalah budak, sebelum ada budak”.

Itulah perempuan yang rela menjadi budak untuk mengamankan hak kepemilikan sebagaimana yang telah diulas dimuka tadi. Beginilah, fungsi perempuan setidaknya digambarkan dalam beberapa hal pertama, menyiapkan tenaga kerja baru melalui proses kelahiran. Kedua, menyiapkan anak-anak sesuai dengan kebutuhan dan yang terakhir memulihkan tenaga kerja suaminya yang habis selama produksi itu.

Itulah kehidupan dan fungsi perempuan dalam masyarakat yang diciptakan oleh sistem. Kalau orang-orang bilang hari ini, penjelasan itu adalah proses kapitalisme, dimana reproduksi sosial amat sangat dibutuhkan dalam masyarakat kapitalis. Ketika tidak ada prasyarat itu maka tidak akan pernah berkembang. Seyoginya, perempuan lah yang mampu menjadi garda terdepan dalam melawan sistem itu.

Ia menjadi manusia pertama yang memberi sumbangsih pada evolusi manusia, namun dia pula yang menjadi manusia yang amat menderita karena itu. Orang inggris dalam syairnya pernah berkata “lelaki kerja dari matahari terbit sampai terbenam. perempuan kerja tiada hentinya siang dari malam” .

Penjelasan dimuka bukanlah himbauan untuk melawan gender lainnya, tidak sekali tidak. Tapi, hendak memberi informasi kesemuanya bahwa akar penindasan perempuan adalah kapitalisme. Bahkan, dampak sistem terhadap itu yang paling menderita adalah perempuan. Bak mesin yang dikontrol dan dipaksa untuk hidup non stop untuk bekerja. Tanpa upah apapun, namun keuntungannya besar dirasakan oleh sistem itu.

Bersatu dan Melawanlah

Bung Karno berkata “Sarinah bukan lagi penguasa masyrakat, tapi menjadi benda dalam rumah tangga saja, benda penglahiran anak dan benda pemelihara anak, yang tak lebih dan tak kurang menjadi pemilik laki-laki”.  Sudah dipenjara dan tak memiliki hak apapun itulah yang melekat padanya. Tapi, kata ia pula kesemuanya harus bergerak dan melawan penindasan itu. Lagi-lagi ia memiliki nasehat begini, “Hanya dimasyarakat sosialislah wanita menjadi wanita yang merdeka”.

Tentu impian Soekarno terhadap masyarakat sosialis tak mudah dan perlu perjalanan panjang untuk berjuang. Demikianlah juga keadaan kita hari ini rasan-rasan sangat mengkhawatirkan atau barangkali pesimis ada pada tingkatan itu. Walaupun begitu, barangkali mimpi maupun harapan tentu harus terus dirawat. Sebab, hanya itu yang barangkali menjadi awal dalam melakukan spirit pergerakan. Sebagaiman gerakan yang harus terus dilakukan oleh perempuan dalam menghapus penindasan.

Gerakan perempuan adalah gerakan sosial, dimana ia adalah gerakan yang layak diakui untuk mewujudkan masyarkat sosialis. Berbagai aliran maupun sejarahnya sama-sama satu pada hakukatnya adalah perubahan sosial.

Bung Karno menjelaskan bahwa gerakan perempuan memiliki tiga tingkatan, yang beliau rangkum dalam  sejarah gerakan keseleruhnya. Diantaranya tiga tingkatan yaitu :

Pertama, pergerakan menyempurnakan sifat “keperempuannya” misalnya memasak, menjahit, berhias, bergaul, memilihara anak dan sebagianya. Kedua, Pergerakan feminisme yang memperjuangkan persamaan hak dengan kaum laki-laki. Ketiga, Pergerakan sosialisme, dimana perempuan dan lelaki bersama-sama berjuang bahu-membahu, untuk mendatangkan masyarakat sosialis, dan akhirnya perempuan maupun lelaki sama-sama sejahtera dan meredeka.

Berbicara tentang harapan dan mimpi bung karno ataupun mimpi kita semua maka, seharunya gerakan perempuan mengambil pada tingkatan ketiga untuk meraih mimpi itu. Contoh perempuan yang mengambil tingkatan ketiga, yang namanya sudah terkenal ke penjuru dunia yakni Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, Luise Zeitz, dan Theresa Malkiel. Kesemuanya adalah pemimpin gerakan dalam pembrontakan baik perempuan maupun laki-laki untuk menentukan haknya dari sistem kapitalisme.

Perbudakan, penindasan, dan kemiskinan itu hasil kapitalisme kata mereka. Bahkan karena itu perempuan mengalami penderitaan dua kali dibandingkan laki-laki. Maka dari itu, Clara Zetkin seorang inisiator dari gerakan perempuan proletar mengambil inisiasi untuk melakukan demontran besar-besar untuk membantu perempuan di pabrik-pabrik dengan melakukan perlawan terhadap sistem itu. Dikarenakan pembebasan perempuan tidak akan pernah terjadi dalam masyarakat kapitalis. Mengapa Clara Zetkhin mengajak perempuan pabrik yang dominan kelas menengah ke bawah dibanding mengajak kaum perempuan menengah keatas? Bagi dia, tidak pernah mungkin para perempuan berjouis ingin melakukan perjuangan kelas. Malah mereka terperangkap hanya pada kepentingan mereka saja.

Kalau kata Arruzza, dkk dalam bukunya yang berjudul Feminisme untuk 99% Sebuah Manifesto, “Penindasan gender dalam masyarakat kapitalis berakar pada subordinanasi reproduksi sosial untuk kegiatan produksi demi keuntungan”. Keuntungan itu hanya ada pada kapitalis bukan kami kaum proletar khususnya, perempuan proletar. Dihisab sebanyak mungkin hingga menciptakan ketergantungan yang begitu besar.

Sebagaimana, yang telah diulas diatas setidaknya ada dua akar penindasan di masa kini yakni masyarakat berkelas dan kapitalisme. Apakah jika ingin melawan itu hanya bisa dilakukan oleh satu gender? Dan gender lainnya tidak melakukan apapun? Padahal, kesemuanya terutama masyarakat proletar yang cukup menderita sebab itu. Artinya, semua perjuangan atas kemerdekaan harus saling berkaitan dan saling membantu tidak mengenal gender, ras, warna kulit semua harus bersatu untuk melawan penindasan itu. Khususnya, penindasan terhadap perempuan. Agar sarinah dapat kembali bahagia dan merdeka atas dirinya.

Kita harus percaya bahwa soal perempuan bukan soal seks, tapi soal sosial pada umumnya. Jika, dipisahkan maka sesungguhnya kita hendak menciptakan penindasan kembali terhadap gender lainnya. Biarkan, khalayak umum mengetahui bahwa satu soal problem sosial adalah soal kita semua baik perempuan maupun laki-laki. Barangkali, rangkuman kesemunya begini satu isu adalah isu bersama selesaikan bersama dengan teknik dan strategis yang telah diputuskan bersama.

Penulis: Miri Pariyas T (Badan Pekerja Malang Corruption Watch)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.